oleh

Harga Rumah Sekunder Naik 1,6% pada Maret 2026, 11 Kota Jadi Motor Baru Pasar Properti

-Properti-4 Dilihat
banner 468x60

TrenBisnis.co, JAKARTA — Data laporan Flash Report April 2026 Rumah123 pasar properti sekunder Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan yang semakin kuat pada kuartal I/2026. Indeks harga rumah sekunder nasional tercatat naik 1,6% secara bulanan (month-on-month/MoM) pada Maret 2026, berbalik dari kontraksi 1,2% pada Februari.

Namun, dinamika yang lebih signifikan justru terlihat dari pergeseran pusat pertumbuhan. Sebanyak 11 dari 13 kota besar di Indonesia kini mencatat kenaikan harga rumah secara tahunan (year-on-year/YoY), meningkat tajam dibandingkan hanya enam kota pada bulan sebelumnya.

banner 336x280

Data laporan Flash Report April 2026 Rumah123 menunjukkan tren ini menjadi sinyal awal desentralisasi pasar properti nasional, yang selama ini cenderung terpusat di Jakarta.

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, mengatakan peningkatan jumlah kota dengan pertumbuhan harga positif mengindikasikan perubahan struktural di pasar.

“Lonjakan dari enam menjadi 11 kota dengan pertumbuhan tahunan positif menunjukkan bahwa pemulihan tidak lagi sporadis. Ini mencerminkan pergeseran menuju kota-kota dengan fundamental ekonomi dan dukungan infrastruktur yang kuat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (16/4/2026).

Sejumlah kota di luar Jakarta menjadi pendorong utama kenaikan harga. Yogyakarta mencatat pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 5,0% YoY dan 6,5% MoM, didorong peningkatan konektivitas Tol Solo–Yogyakarta serta keterbatasan lahan di pusat kota.

Baca Juga : Pasar Properti 2025 Bergerak Moderat, Ini Prospek per Sektor Menurut Colliers

Selanjutnya, Denpasar dan Makassar juga menunjukkan kinerja kuat masing-masing dengan kenaikan 4,5% YoY dan 4,4% YoY. Denpasar didorong ekspansi basis pembeli melalui skema second-home visa, sementara Makassar menguat sebagai hub ekonomi Indonesia Timur dengan dominasi pembeli dari kalangan muda.

Kota penyangga seperti Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Depok juga mencatat pertumbuhan, meskipun lebih moderat. Kenaikan di wilayah ini didorong limpahan permintaan dari kawasan industri, tren hunian ramah lingkungan, serta peningkatan aksesibilitas infrastruktur.

Sementara itu, kota besar lainnya seperti Bandung, Semarang, Surakarta, dan Medan turut mencatat pertumbuhan harga, seiring dengan penguatan konektivitas regional dan aktivitas ekonomi.

Di tengah tren positif tersebut, Jakarta dan Surabaya masih mengalami kontraksi harga tahunan masing-masing sebesar 0,5% dan 0,9%. Jakarta bahkan tercatat mengalami penurunan harga tahunan selama 12 bulan berturut-turut.

Rumah123 menilai kondisi ini sebagai fase “price discovery”, di mana pasar sedang mencari titik keseimbangan baru, terutama akibat kelebihan pasokan di segmen apartemen menengah atas yang belum sepenuhnya terserap.

Meski demikian, terdapat indikasi awal pemulihan di Jakarta, dengan kenaikan harga sebesar 1,1% secara bulanan pada Maret. Hal ini dinilai sebagai sinyal bahwa pasar mulai mendekati titik terendah sebelum kembali menguat.

Baca Juga : Bunga KPR Turun, PropVaganza 2026 Jadi Ajang Berburu Properti

Selain pergerakan harga, indikator lain yang menguat adalah sisi suplai. Volume rumah sekunder yang tersedia di pasar tercatat menyusut 8,1% secara tahunan. Di sisi lain, minat pencarian properti (enquiries) tetap tinggi.

Kondisi tersebut mendorong pergeseran pasar dari buyer’s market menuju seller’s market, di mana posisi tawar penjual mulai menguat seiring terbatasnya stok yang tersedia.

Marisa menambahkan bahwa faktor makroekonomi turut mendukung pemulihan sektor properti. Stabilnya suku bunga acuan Bank Indonesia di level 4,75% serta inflasi yang terkendali di kisaran 3,48% meningkatkan kepercayaan diri konsumen untuk kembali bertransaksi.

Selain itu, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang masih berlaku hingga akhir tahun turut menjadi katalis permintaan.

“Dengan kombinasi faktor tersebut, kami memproyeksikan kuartal II/2026 akan menjadi fase akselerasi bagi pasar properti sekunder,” katanya.

Ke depan, Rumah123 menilai tren desentralisasi ini akan terus berlanjut, dengan kota-kota di luar Jakarta semakin berperan sebagai pusat pertumbuhan baru, didorong oleh pembangunan infrastruktur, perubahan preferensi hunian, serta transformasi demografis masyarakat. (*)

Editor : Huda

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *