Ekonomi Bisnis

Pasar Properti 2025 Bergerak Moderat, Ini Prospek per Sektor Menurut Colliers

Trenbisnis.co, Jakarta — Pemulihan pasar properti nasional sepanjang 2025 masih berlangsung tidak merata di tengah tekanan permintaan dan keterbatasan pasok di sejumlah segmen.

Riset Colliers Indonesia menunjukkan, sebagian sektor mulai mencatat perbaikan kinerja, meski laju pertumbuhannya relatif moderat.

Data Colliers untuk sektor perkantoran, pemulihan masih terbatas hingga akhir 2025. Tingkat hunian perkantoran di CBD Jakarta mencapai 75,8%, tumbuh sekitar 1,5%–2% dibandingkan 2024.

Sementara itu, tingkat hunian di luar CBD bertahan di kisaran 70%, tertekan oleh kompetisi dengan gedung di pusat bisnis dan tambahan pasok baru.

Baca Juga : Akhir Tahun 2025, Konsumen Properti Fokus ke Kawasan Bermobilitas Tinggi

Ferry Salanto – Head of Research memaparkan, bahwa keterbatasan ruang kosong mendorong sebagian gedung premium menaikkan tarif sewa secara selektif, meskipun insentif sewa masih diberikan.

Di Surabaya, tingkat hunian perkantoran tumbuh sejak 2023, namun melambat pada 2025. Dampaknya, kenaikan tarif sewa berlangsung relatif moderat. Hingga 2028, tidak terdapat tambahan pasok baru, dengan proyeksi pertumbuhan harga sewa sekitar 2%–2,5% per tahun.

Ferry menambahkan, pada sektor apartemen Jakarta, harga jual tercatat masih tumbuh meski terbatas. Area CBD dan Jakarta Selatan mencatat pertumbuhan tertinggi, sementara wilayah lain mengalami tekanan akibat persaingan penjualan di akhir tahun.

“Harga rata-rata berada di kisaran Rp36 juta per meter persegi pada 2025 dan diperkirakan menyentuh Rp37 juta per meter persegi pada 2026”, ujar Ferry dalam paparan secara virtual pada Rabu (7/1/2026).

Hal ini didorong transisi proyek dari tahap konstruksi ke siap huni serta dominasi segmen menengah atas dan mewah.

Sementara itu di Bali, pasar apartemen didominasi skema hak sewa (leasehold) dengan total pasok sekitar 3.200 unit pada 2025. Canggu dan Nusa Dua menjadi kontributor pasok terbesar.

Menurutnya, tipe studio dan one bedroom menjadi tipe paling diminati. Harga apartemen rata-rata berada di kisaran Rp45 juta per meter persegi, dengan kenaikan yang relatif terbatas akibat bertambahnya pasok unit baru. Apartemen dengan konsep wellness dan family retreat diperkirakan mendominasi proyek baru.

“Untuk serviced apartment, tidak terdapat tambahan pasok signifikan di Jakarta maupun Surabaya hingga 2028, ungkap Ferry.

Data Colliers menunjukkan, okupansi Jakarta naik tipis sekitar 0,5%, sementara Surabaya turun 1,5%, seiring pengaruh pasok baru dan perubahan komposisi ekspatriat. Pertumbuhan tarif sewa masih berlangsung moderat.

Baca Juga : ASRI Sabet 4 Penghargaan di Ajang PropertyGuru Indonesia Awards 2025

Di segmen expat housing, permintaan didominasi ekspatriat asal China, India, dan Eropa. Perubahan anggaran sewa relatif terbatas hingga akhir 2025.

Ferry menambahkan bahwa ke depan, fasilitas EV charging mulai menjadi salah satu faktor pertimbangan utama penyewa. Pemilik properti juga mulai mengadopsi model bisnis lebih aktif melalui pembelian unit lama untuk direnovasi dan dijual kembali.

Pada sektor ritel, pasok baru di Jakarta bertambah melalui dua mal baru, dengan total pasok mendekati 5 juta meter persegi. Tingkat hunian Jakarta terkoreksi, sementara BoDeTaBek relatif stabil.

Serapan ruang didorong peritel F&B, fesyen, dan hiburan, dengan tren experience-based retail dan gaya hidup sehat semakin menguat. Hingga 2028, tingkat hunian Jakarta dan BoDeTaBek diproyeksikan tumbuh sekitar 3% per tahun, sedangkan Surabaya dan Bali sekitar 4% per tahun, seiring terbatasnya ruang kosong di lokasi strategis.

Di sektor hotel, Jakarta masih menghadapi tantangan rendahnya permintaan dari pasar pemerintahan, meski average room rate (ARR) meningkat berkat pasar non pemerintahan.

Di Bali, kenaikan kunjungan wisatawan asing mendorong perbaikan harga kamar, dengan pasar Asia—khususnya China dan India—menjadi kontributor utama.

Sementara di Surabaya, pasar korporasi masih menopang kinerja di tengah melemahnya pasar pemerintah.

Adapun pada sektor kawasan industri, keterbatasan pasok lahan membatasi volume transaksi. Permintaan lahan melemah akibat faktor ekonomi global, dengan bangunan pabrik standar (SFB) menjadi pilihan utama pelaku industri skala kecil.

Harga lahan tercatat meningkat karena inflasi, namun ke depan diperkirakan relatif stabil dengan potensi kenaikan terbatas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *