Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi Bisnis

Mal Premium Dominasi Kinerja Ritel, Sektor F&B Jadi Pendorong Utama

×

Mal Premium Dominasi Kinerja Ritel, Sektor F&B Jadi Pendorong Utama

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TrenBisnis.co. JAKARTA — Kinerja pusat perbelanjaan pasca pandemi Covid-19 di Jabodetabek pada kuartal I/2026 menunjukkan dinamika yang semakin kontras antara segmen premium dan non-premium.

Meskipun trafik pengunjung mengalami peningkatan, konversi menjadi penjualan dinilai belum sepenuhnya optimal, mencerminkan adanya pergeseran perilaku konsumen.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, peningkatan jumlah pengunjung belum sepenuhnya berbanding lurus dengan transaksi yang terjadi di dalam mal.

“Traffic meningkat, tetapi belum sepenuhnya dikonversi menjadi penjualan. Ini mencerminkan adanya pergeseran perilaku konsumen, terutama di kalangan generasi muda,” ujarnya.

Baca Juga : Mal Ciputra Jakarta Rayakan Satu Dekade Kampoeng Legenda

Menurutnya perubahan preferensi tersebut turut memengaruhi komposisi sektor ritel. Segmen food & beverage (F&B) dan lifestyle tercatat tumbuh, sementara sektor fesyen masih menghadapi tekanan akibat persaingan dengan kanal daring.

“Kami melihat F&B dan lifestyle menjadi penggerak utama, sedangkan fashion masih cukup tertekan karena kompetisi dari online,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, mal kelas atas tetap menunjukkan kinerja yang lebih solid dibandingkan segmen lainnya. Permintaan dari tenant, khususnya di sektor F&B, masih tinggi dan aktif melakukan ekspansi di lokasi premium.

Dari sisi pasokan, penambahan mal baru masih berlangsung, meskipun tidak agresif. Pada kuartal I/2026, tercatat terdapat tambahan dua pusat perbelanjaan baru.

Namun, dalam jangka menengah, pasokan diproyeksikan cenderung menurun hingga 2029, baik di Jakarta maupun Jabodetabek.

Sementara itu, tarif sewa tercatat meningkat secara moderat. Di sisi lain, biaya operasional mal justru mengalami kenaikan yang lebih signifikan, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola.

Baca Juga : Pasar Apartemen 2026 Masih Selektif, Potensi Harga Naik Efek Geopolitik Timur Tengah

Lebih lanjut, Ferry menuturkan bahwa posisi mal premium saat ini semakin kuat, ditopang oleh tingkat hunian yang tinggi dan tingginya minat tenant.

“Mal kelas atas kini memiliki posisi sangat kuat. Bahkan, banyak tenant harus masuk dalam daftar tunggu (waiting list) untuk bisa masuk,” katanya.

Berdasar data Colliers Indonesia, tingkat hunian mal premium saat ini berada di kisaran 90%, jauh di atas mal kelas menengah dan bawah yang hanya sekitar 58%. Kesenjangan ini menunjukkan perbedaan daya tarik yang semakin jelas antarsegmen.

Untuk menjaga daya saing, sejumlah pengelola mal melakukan berbagai strategi, mulai dari renovasi total maupun parsial, rebranding, hingga optimalisasi area sewa.

Langkah ini juga diiringi dengan upaya memperkaya komposisi tenant agar lebih relevan dengan kebutuhan konsumen.

Di sisi lain, pelaku ritel juga mulai melakukan penyesuaian strategi. Sejumlah retailer menutup gerai yang tidak optimal dan lebih fokus pada lokasi dengan kinerja penjualan yang kuat.

Selain itu, beberapa brand mulai memilih durasi sewa yang lebih fleksibel, umumnya di bawah tiga tahun, sebagai langkah mitigasi terhadap ketidakpastian pasar.

Masuknya merek baru dari Jepang, China, dan Malaysia juga turut meramaikan pasar ritel, dengan pendekatan berbasis data dalam menentukan lokasi dan target konsumen.

Secara keseluruhan, sektor ritel mal di Jabodetabek menunjukkan tren pemulihan yang selektif. Mal premium tetap menjadi pilihan utama bagi tenant, sementara segmen menengah dan bawah masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan daya tarik dan kinerja okupansi. (*)

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *