Wong Kar Choon, Capital Markets Services Partner, Deloitte Malaysia, mengatakan, “Pipeline IPO Malaysia sangat beragam, dengan aktivitas signifikan di sektor barang consumer (consumer goods), produk industri, serta energi dan sumber daya, berkat dukungan insentif pemerintah dan meningkatnya minat investor.”
Meski terdapat ketidakpastian geopolitik, tarif perdagangan yang berdampak pada perusahaan yang berorientasi ekspor, serta tekanan pada supply chain, perusahaan-perusahaan konsumer yang sudah mapan tetap menjadi tulang punggung pasar IPO dan lanskap ekonomi Malaysia.
“Pasar IPO Malaysia pada 2025 ditandai oleh keberagaman sektor yang kuat, sentimen investor yang positif, dan lingkungan regulasi yang mendukung, menjadikannya pasar modal yang tangguh sekaligus tujuan yang menarik bagi IPO di Kawasan Asia Tenggara.”ujar Wong Kar Choon.
Di Indonesia, terdapat 24 IPO dengan total dana yang dihimpun sebesar US$ 921 juta (Rp 15,35 triliun). Sektor energi dan sumber daya menjadi penyumbang dana terbesar, dengan aktivitas IPO mencakup perusahaan minyak dan gas, energi terbarukan, serta jasa penunjang pertambangan.
Kinerja ini terutama didorong oleh pencatatan PT Merdeka Gold Resource Tbk dan PT Chandra Data Investasi Tbk, yang masing-masing menghimpun US$279 juta (Rp 4,65 triliun) dan US$144 juta (Rp 2,4 triliun).
Posisi berikutnya ditempati sektor real estat, didukung oleh pencatatan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk, perusahaan yang berafiliasi dengan Agung Sedayu Group, salah satu pengembang properti terintegrasi terbesar di Indonesia. Sektor konsumer berada di peringkat ketiga, dipimpin oleh pencatatan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk.
Tay Hwee Ling, Capital Markets Services Leade, Deloitte Southeast Asia mengatakan, “Aktivitas IPO di Indonesia didorong oleh sektor industri, energi, konsumer, dan layanan kesehatan, dengan preferensi investor yang kuat terhadap perusahaan yang memiliki fundamental kuat, prospek jangka panjang, dan dukungan pemerintah.
Lebih lanjut ia mengungkapkan sektor infrastruktur dan energi, khususnya energi terbarukan, juga mencatat peningkatan minat seiring meningkatnya pipeline proyek strategis Indonesia dan percepatan transisi menuju energi bersih.
Hwee Ling menambahkan, ‘Meskipun sentimen pasar menguat setelah pemilu, investor tetap berhati-hati di tengah tekanan makroekonomi seperti penurunan harga komoditas, ketegangan perdagangan global, dan penyesuaian tenaga kerja.
Pipeline IPO pada kuartal IV 2025 mencakup perusahaan teknologi, logistik, dan jasa keuangan, yang diperkirakan menarik minat besar apabila mereka mampu menunjukkan profitabilitas dan ketahanan yang jelas.’

















