Meningkatnya IPO hasil dukungan Private Equity (PE)
Keterlibatan Private Equity (PE) dalam pasar IPO Asia Tenggara meningkat lebih dari dua kali lipat dalam sembilan bulan pertama 2025, mendorong kenaikan rata-rata ukuran transaksi dan memperkuat kepercayaan pasar.
Lonjakan ini berkontribusi pada peningkatan 54% dana yang dihimpun, meskipun jumlah IPO secara keseluruhan menurun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang didukung PE umumnya berukuran lebih besar dan betapa perusahaan lebih matang menargetkan IPO sebagai exit strategy investasi.
Tren ini menunjukkan pergeseran preferensi yang kuat ke arah kualitas, bukan sekadar kuantitas, dengan investor PE dan institusi kini memainkan peran yang makin besar dalam mendorong pertumbuhan pasar modal di Asia Tenggara.
Kenaikan ini juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor serta membaiknya iklim exit bagi para investor PE di Kawasan Asia Tenggara.
Aktivitas PE terlihat paling menonjol di sektor infrastruktur digital (REIT dan pusat data), kesehatan, ritel konsumer, dan teknologi, mencerminkan tren ekonomi dan investasi Asia Tenggara yang bergerak menuju pertumbuhan berbasis teknologi dan aset riil.
Penggalangan dana PE di Asia Tenggara juga tetap stabil, dengan alokasi modal yang signifikan untuk memperkuat portofolio perusahaan agar siap IPO. Hal ini mendorong terbentuknya pipeline exit yang kuat menjelang 2026.
Regional outlook
“Tren IPO di kawasan Asia Tenggara sepanjang 2025 menunjukkan pemulihan yang berfokus pada nilai (value), sector leadership dari sektor konsumer, real estat, dan teknologi, serta munculnya Singapura sebagai destinasi IPO high profile berkat kebijakan regulasi yang lebih ramah pasar dan sejumlah listing besar.
“Meski minat terhadap listing berskala besar mulai meningkat, sentimen pasar masih cenderung berhati-hati. Calon emiten terus memantau kondisi pasar modal untuk mencari waktu dan valuasi yang lebih menguntungkan, sehingga ukuran penawaran yang diajukan cenderung lebih kecil dan lebih strategis,” jelas Tay Hwee Ling, Capital
Markets Services Leader, Deloitte Southeast Asia.
Momentum positif mulai terbentuk di pasar IPO, didorong oleh tren pencatatan yang lebih sedikit namun berukuran lebih besar dan berkualitas lebih tinggi.
Malaysia dan Indonesia memimpin pertumbuhan dari sisi volume dan nilai, sementara Singapura mendominasi dari sisi penghimpunan dana IPO berskala besar. Vietnam secara bertahap membangun ekosistem IPO-nya dan menunjukkan perkembangan yang stabil.
Sementara itu, Thailand mencatat serangkaian IPO berukuran kecil sepanjang tahun, dengan pengecualian Mr. DIY Holding (Thailand) Public Company Limited yang berhasil menghimpun dana IPO sebesar US$174 juta (Rp 2,9 triliun).
Kinerja pasar di Thailand turut tertekan oleh ketidakpastian politik domestik, tingginya utang rumah tangga, volatilitas pasar internasional, serta perubahan pada regulasi penghimpunan dana.
Terlepas dari ketidakpastian geopolitik dan makroekonomi, pasar regional tetap tangguh, ditopang oleh reformasi regulasi, diversifikasi sektor, dan meningkatnya kepercayaan investor.
Sektor real estat mendominasi dengan kontribusi 33% dari total dana IPO, disusul oleh sektor energi & sumber daya dan sektor keuangan. Sektor industri yang terkait dengan mobilitas dan infrastruktur energi mulai menunjukkan momentum seiring tren reshoring rantai pasok.
IPO di sektor kesehatan dan teknologi juga menarik perhatian besar dari investor, didukung oleh keterlibatan PE dan investor institusional.
Ekosistem yang kokoh ini menunjukkan bahwa Asia Tenggara tetap menjadi kawasan yang menarik untuk penghimpunan dana di pasar publik pada 2025 dan seterusnya. (*)
Editor: Huda

















