Sudirman Central Business District (SCBD) menjadi salah satu kawasan yang dinilai berpeluang pulih lebih cepat. Tingkat hunian rata-rata kawasan tersebut mencapai 87,1%, didukung integrasi transportasi umum, termasuk MRT, serta kedekatan dengan pusat perbelanjaan premium, hotel, dan gedung perkantoran berkualitas.
Colliers juga melihat ruang kosong pada gedung premium semakin terbatas. Penyewa tidak lagi hanya mempertimbangkan harga sewa, tetapi turut memperhitungkan lokasi, akses transportasi, efisiensi operasional, dan kesiapan ruang.
Gedung dengan kondisi siap pakai atau fitted and furnished semakin menarik karena dapat menekan kebutuhan belanja modal awal (capital expenditure/capex) dan mempercepat waktu perpindahan. Dengan demikian, persaingan pemilik gedung bergeser dari sekadar menawarkan tarif termurah menjadi memberikan nilai terbaik bagi penyewa.
Mal Ramai, Transaksi Belanja Belum Tentu Meningkat
Di sektor ritel Jabodetabek, jumlah kunjungan mal relatif terjaga. Namun, peningkatan lalu lintas pengunjung belum otomatis menghasilkan kenaikan transaksi belanja.
Ferry Salanto memaparkan bahwa tantangan pasar ritel kini tidak hanya berkaitan dengan mendatangkan pengunjung, tetapi juga mengubah kunjungan menjadi transaksi yang mampu menjaga produktivitas toko.
Colliers mencatat sekitar 89,8% ruang kosong mal di Jabodetabek terkonsentrasi pada pusat perbelanjaan kelas menengah hingga bawah. Sebaliknya, mal kelas atas dan menengah atas memiliki keunggulan berupa basis konsumen yang kuat, ekosistem penyewa yang solid, serta daya tarik merek.
Kondisi ini membuat peritel semakin selektif dalam menentukan lokasi ekspansi. Pembukaan gerai baru tidak lagi berorientasi pada penambahan jumlah outlet semata, tetapi pada kemampuan setiap lokasi menghasilkan penjualan yang sepadan dengan modal yang ditanamkan.
Bagi mal yang tertinggal, pembaruan atau rejuvenation menjadi strategi penting. Upaya tersebut perlu mencakup perbaikan bauran penyewa, pengalaman belanja, dan produktivitas pusat perbelanjaan, bukan sekadar perubahan tampilan fisik.
Pengembang Apartemen Andalkan Insentif dan Skema Pembayaran
Pasar apartemen Jakarta menunjukkan perbedaan karakteristik pembeli antara segmen kelas atas dan menengah. Pada segmen kelas atas, kredibilitas pengembang dan lokasi menjadi faktor penting. Sementara itu, pembeli kelas menengah lebih sensitif terhadap harga, metode pembayaran, dan insentif.
Colliers mencatat investor mencakup 57% profil pembeli apartemen kelas atas. Sebaliknya, pada segmen menengah, pengguna langsung mendominasi dengan porsi 54%.

















