TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp3,66 triliun pada semester I/2026, melonjak 117% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,69 triliun.
Kenaikan tersebut turut mendorong perseroan membalikkan posisi rugi menjadi laba komprehensif sebesar Rp523,5 miliar.
Corporate Secretary APLN Justini Omas mengatakan peningkatan kinerja didorong oleh pengakuan penjualan dari sejumlah proyek unggulan, optimalisasi portofolio aset, serta efisiensi operasional yang dijalankan perseroan.
“Kinerja semester pertama tahun ini menunjukkan implementasi strategi bisnis berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan. Pertumbuhan yang dicapai memberikan keyakinan bagi kami untuk menjaga momentum hingga akhir tahun,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026).
Hingga Juni 2026, APLN mencatat marketing sales sebesar Rp603 miliar atau sekitar 43% dari target tahun ini sebesar Rp1,4 triliun. Penjualan tersebut terutama ditopang permintaan terhadap produk rumah tapak dan proyek mixed-use.
Salah satu kontributor utama pertumbuhan pendapatan berasal dari pengakuan penjualan Mall Deli Park Medan senilai Rp2,2 triliun kepada PT DPM Assets Indonesia melalui anak usaha PT Sinar Menara Deli. Transaksi tersebut merupakan bagian dari strategi perseroan untuk melakukan optimalisasi dan rebalancing portofolio aset.
Menurut Justini, monetisasi aset bernilai tinggi menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan perseroan mengembangkan proyek-proyek baru dengan potensi pertumbuhan yang lebih besar.
Secara rinci, pengakuan penjualan meningkat hampir tiga kali lipat menjadi Rp3,11 triliun dari Rp1,06 triliun pada semester I/2025. Sementara itu, pendapatan berulang (recurring income) tetap memberikan kontribusi sebesar Rp549,9 miliar.
Peningkatan pendapatan turut mendorong laba bruto naik sekitar 91% menjadi Rp1,24 triliun. Di sisi lain, beban bunga dan biaya keuangan berhasil ditekan menjadi Rp206,1 miliar. Perseroan juga melanjutkan upaya memperkuat struktur keuangan melalui penurunan liabilitas.
Hingga akhir Juni 2026, total liabilitas tercatat sebesar Rp10,37 triliun, turun dari Rp11,28 triliun pada akhir 2025. Dalam kurun sekitar 2,5 tahun terakhir, APLN telah mengurangi total utang hingga Rp4,5 triliun dari posisi Rp14,87 triliun pada akhir 2023.
Selain itu, posisi kas dan setara kas meningkat menjadi Rp1,13 triliun dengan arus kas dari aktivitas operasi mencapai Rp1,51 triliun.
Meski demikian, Justini menilai industri properti masih menghadapi sejumlah tantangan hingga akhir tahun, antara lain tren kenaikan suku bunga, melemahnya keyakinan konsumen, serta penurunan daya beli masyarakat kelas menengah.
Kendati demikian, APLN optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan dengan fokus pada pengembangan proyek yang memiliki permintaan tinggi, percepatan penyelesaian proyek, serta optimalisasi pengelolaan aset.
“Dengan pengalaman lebih dari 56 tahun di industri properti nasional, kami percaya APLN tetap mampu memanfaatkan peluang dan menjadi pilihan konsumen melalui produk berkualitas serta nilai aset yang terus bertumbuh,” pungkas Justini.
Editor : Huda

















