TrenBisnis.co, Jakarta — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah melonjak tajam setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Pemerintah Iran pada Minggu (1/3/2026) mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan Khamenei meninggal dunia saat berada di kantornya. Serangan itu juga menewaskan sejumlah anggota keluarganya. Kematian figur sentral politik Iran tersebut menandai eskalasi paling serius di kawasan dalam beberapa tahun terakhir dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan negaranya akan melakukan pembalasan. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi respons militer lanjutan dari Teheran.
Gangguan Selat Hormuz, Risiko Pasokan Meningkat
Eskalasi konflik langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak Brent sempat melonjak hingga 13% sebelum memangkas sebagian kenaikan. Hingga awal pekan, harga masih menguat sekitar 9% dibandingkan penutupan Jumat (27/2/2026), mencerminkan tingginya volatilitas.
Baca Juga : Lewat Program ESG, Eastspring Indonesia Gandeng WWF Pulihkan Lingkungan Sumatra
Pasar menyoroti risiko gangguan distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Laporan mengenai gangguan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan global.
Liew Kong Qian, Head of Investment Eastspring Investments Indonesia, menilai untuk saat ini, selama belum muncul sinyal de-eskalasi yang jelas, pasar diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan volatilitas tinggi, terutama pada aset berisiko, nilai tukar, dan komoditas energi.
Menurutnya, arah perkembangan sangat bergantung pada pilihan Iran untuk de-eskalasi melalui jalur diplomasi atau sebaliknya, serta respons lanjutan dari Amerika Serikat.
Baca Juga : Capral Alumunium Gandeng Alca Metals Perkuat Pasar Impor Australia
Selain itu, potensi keterlibatan aktor regional maupun global lain akan menentukan apakah lonjakan harga minyak bersifat sementara atau berkembang menjadi guncangan struktural.
“Bagi pasar minyak, variabel paling krusial adalah durasi serta tingkat gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz,” ujarnya.
Resiko di Indonesia IHSG dan Rupiah Tertekan
Sentimen risk-off mendominasi perdagangan di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,66% atau 218,65 poin ke level 8.016,83.
Pelemahan dipimpin saham-saham berkapitalisasi besar seperti BREN (-5,47%), BMRI (-3,79%), ASII (-5,62%), TPIA (-10,82%), dan BBCA (-2,09%). Di tengah koreksi tersebut, sektor energi relatif lebih resilien seiring kenaikan harga komoditas.
Di pasar valuta asing, rupiah melemah 0,48% ke Rp16.868 per dolar AS. Tekanan juga terjadi di pasar obligasi, tercermin dari kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 5 tahun sebesar 7 basis poin menjadi 5,85%, sementara tenor 10 tahun naik ke 6,46% dari sebelumnya 6,43%.
Secara makro, eskalasi konflik berpotensi memengaruhi Indonesia melalui dua jalur utama.
Pertama, jalur perdagangan komoditas. Lonjakan harga minyak berisiko meningkatkan tekanan inflasi serta memperbesar beban subsidi energi.
Jika harga bertahan tinggi dalam periode panjang, ruang fiskal berpotensi tertekan akibat kenaikan kebutuhan kompensasi energi.
Kedua, jalur pasar keuangan. Dalam kondisi ketidakpastian global, investor cenderung beralih ke aset safe haven. Pergeseran ini dapat memicu arus keluar dana asing (capital outflow), meningkatkan volatilitas rupiah, serta memperketat likuiditas domestik.
Arah Selanjutnya
Pelaku pasar kini mencermati sejumlah variabel kunci, termasuk kemungkinan de-eskalasi diplomatik, respons militer lanjutan dari Amerika Serikat, serta potensi meluasnya konflik ke kawasan regional lain.
Secara historis, guncangan geopolitik kerap memicu lonjakan awal harga minyak dan aset lindung nilai. Namun volatilitas biasanya mereda apabila konflik tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan.
Melihat perkembangan saat ini, selama belum muncul sinyal de-eskalasi yang jelas, pasar diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan volatilitas tinggi, terutama pada aset berisiko, nilai tukar, dan komoditas energi. (*)
Editor : Huda

















