Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Berita

Riset Inggris-Indonesia Petakan Risiko Geologi di Bandung

×

Riset Inggris-Indonesia Petakan Risiko Geologi di Bandung

Sebarkan artikel ini

TrenBisnis.co, BANDUNG — Kolaborasi peneliti Inggris dan Indonesia memetakan paparan masyarakat, infrastruktur, dan wilayah terhadap risiko geologi di kawasan metropolitan Bandung. Riset ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan bencana dan perencanaan resiliensi perkotaan.

Penelitian bertajuk Exposed: Physical and Social Exposure to Seismic and Volcanic Threats in Bandung, Indonesia tersebut digarap oleh British Geological Survey (BGS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Riset menggabungkan keahlian geosains, observasi bumi berbasis satelit, kecerdasan buatan, analisis demografi, pemodelan perkotaan, serta pelibatan masyarakat.

Kolaborasi tersebut didanai bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) dan British Council melalui International Science Partnerships Fund (ISPF).

Kawasan Metropolitan Bandung menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena dihuni lebih dari 9 juta penduduk dan berada di lingkungan geologi yang dinamis. Kawasan tersebut berdekatan dengan Sesar Lembang serta sejumlah gunung api, antara lain Tangkuban Parahu, Guntur, Papandayan, dan Galunggung.

Penelitian ini tidak ditujukan untuk memprediksi waktu terjadinya gempa atau erupsi. Fokusnya adalah menyediakan bukti ilmiah mengenai potensi risiko, tingkat paparan, serta kelompok dan aset yang berpotensi terdampak sebagai dasar peningkatan kesiapsiagaan dan perencanaan jangka panjang.

Dalam riset tersebut, peneliti juga mengkaji masyarakat, infrastruktur, dan wilayah yang memiliki tingkat paparan berbeda terhadap ancaman geologi.

Pendekatan itu dilengkapi dengan pelibatan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar Sesar Lembang. Pengetahuan dan pengalaman lokal digunakan untuk memahami bagaimana risiko dipersepsikan dan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Endra Gunawan, Indonesian Project Lead dari ITB, mengatakan riset tidak hanya berfokus pada sumber bahaya, tetapi juga keterkaitannya dengan kehidupan masyarakat.

“Yang penting bagi kami bukan hanya memahami di mana bahaya dapat terjadi dan seberapa besar potensinya, tetapi juga mengidentifikasi siapa dan apa yang paling terpapar serta bagaimana pengetahuan tersebut dapat membantu masyarakat dan pemerintah mempersiapkan diri secara lebih efektif,” ujarnya.

Menurut Endra, kolaborasi dengan BGS dan mitra lainnya memungkinkan penggabungan keahlian geosains, teknologi, analisis sosial, dan pengetahuan lokal. Pertukaran pengetahuan antara peneliti Inggris dan Indonesia juga dinilai dapat memperkuat kapasitas riset kebencanaan.

Pengetahuan Riset Dibawa ke Publik

Hasil dan pengetahuan dari penelitian tersebut kemudian diterjemahkan ke ruang publik melalui pameran Setanah, Tak Diam di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Bandung.

Pameran yang berlangsung mulai 28 Agustus 2026 hingga Januari 2027 tersebut merupakan kolaborasi SSAS, ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Gamma Metrics, dengan dukungan The Toyota Foundation dan Kemendiktisaintek.

Setanah, Tak Diam mempertemukan sains, seni, budaya, storytelling, dan pengalaman masyarakat untuk menerjemahkan isu risiko geologi ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami publik.

Selain pameran, rangkaian kegiatan publik juga mencakup kuliah, lokakarya, diskusi, dan kegiatan bersama komunitas.

Summer Xia, Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council, mengatakan kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana kemitraan riset internasional dapat menghasilkan pengetahuan yang relevan dengan persoalan sehari-hari.

“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana keahlian dari Inggris dan Indonesia dapat menghasilkan pengetahuan baru, memperkuat generasi peneliti berikutnya, serta membangun hubungan jangka panjang yang terus memberikan dampak bahkan setelah proyek ini berakhir,” kata Summer.

Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey mengatakan kerja sama Inggris dan Pemerintah Kota Bandung juga diarahkan untuk memperkuat resiliensi masyarakat melalui aksi iklim, sains, dan inovasi.

Menurut dia, kerja sama di Bandung dan Jawa Barat merupakan bagian dari implementasi Kemitraan Strategis Inggris-Indonesia, khususnya pada bidang iklim dan energi serta masyarakat.

Melalui riset dan pameran tersebut, pengetahuan mengenai risiko geologi diharapkan tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat digunakan masyarakat dan pemerintah sebagai salah satu dasar dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan membangun resiliensi perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *