Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
BeritaNasional

British Council dan Kemenag Perkuat Kompetensi 6.000 Guru Madrasah

×

British Council dan Kemenag Perkuat Kompetensi 6.000 Guru Madrasah

Sebarkan artikel ini

TrenBisnis.co, JAKARTA – British Council bersama Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat kompetensi 6.000 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) di 34 kabupaten/kota melalui program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP), menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa kelas III–VI MI mulai Juli 2027.

Program yang diluncurkan di Gedung Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta, pada Selasa (13/10/2026) tersebut menggunakan pendekatan Community of Practice (CoP) atau komunitas praktik. Model ini dirancang agar pengembangan kompetensi guru tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut melalui pembelajaran bersama, pertukaran pengalaman, dan pendampingan antarguru.

Pelaksanaan STEPS-CoP diawali dengan Training of Trainers (ToT) bagi 68 pemimpin komunitas praktik atau CoP Leaders. Mereka akan berperan sebagai fasilitator yang mendukung peningkatan kapasitas 6.000 guru Bahasa Inggris dan guru kelas MI di 34 kabupaten/kota.

Country Director Indonesia sekaligus Director Southeast Asia British Council, Summer Xia mengatakan, kesiapan guru menjadi faktor penting dalam penerapan kebijakan Bahasa Inggris wajib di madrasah.

“Melalui STEPS-CoP, kami memadukan keahlian global British Council dengan pengetahuan dan pengalaman para pendidik Indonesia untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat diperluas dan berkelanjutan,” ujar Summer.

Baca Juga :  TGML 2026 Semarang Jaring Tiga Finalis Menuju Grand Final

Menurut dia, penguatan kapasitas guru diharapkan dapat memperluas akses siswa madrasah terhadap pembelajaran Bahasa Inggris yang berkualitas, sekaligus membuka peluang untuk mengakses ilmu pengetahuan dan berpartisipasi dalam lingkungan global.

Pengembangan Kompetensi Guru Berkelanjutan

Salah satu fokus STEPS-CoP adalah membangun ekosistem belajar bagi guru melalui komunitas profesional. Dalam pendekatan ini, guru didorong untuk mendiskusikan tantangan pembelajaran di kelas, berbagi metode pengajaran yang efektif, serta mengembangkan praktik baik bersama rekan sejawat.

Program tersebut juga memanfaatkan EnglishScore dari British Council dan Self-Assessment Tool (SAT) untuk memetakan kemampuan Bahasa Inggris serta kompetensi pedagogi guru. Hasil pemetaan ini menjadi salah satu dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan setiap peserta.

Dengan demikian, peningkatan kapasitas dapat disesuaikan dengan kemampuan awal dan kebutuhan guru, bukan menggunakan pendekatan pelatihan yang sama untuk seluruh peserta.

Pengawas Sekolah di Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Kota Bandar Lampung sekaligus salah satu pelatih program, Septriani Nidi, menilai komunitas belajar dapat membantu guru mempertahankan proses pengembangan profesional setelah pelatihan formal selesai.

Baca Juga :  KAI Sampaikan Permohonan Maaf, Fokus Evakuasi Usai Insiden KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur

“Guru tidak membutuhkan satu lagi pelatihan yang selesai ketika sesi berakhir. Kami membutuhkan ruang untuk terus belajar setelah kembali ke kelas, untuk mendiskusikan tantangan yang kami hadapi, berbagi praktik yang berhasil, dan belajar dari pengalaman sesama guru,” kata Septriani.

Dia menambahkan, keberadaan komunitas profesional diharapkan membuat guru tidak menghadapi tantangan pembelajaran secara mandiri. Peningkatan kompetensi yang diperoleh juga diharapkan dapat diterapkan langsung untuk memperbaiki kualitas pembelajaran siswa.

Menjangkau Ribuan Guru Madrasah

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) semester ganjil 2025 yang dikutip dalam siaran pers, Indonesia memiliki 26.826 Madrasah Ibtidaiyah. Dengan jumlah tersebut, pengembangan kapasitas guru menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan penerapan Bahasa Inggris wajib di jenjang pendidikan dasar madrasah.

Program STEPS-CoP menyasar 6.000 guru sebagai tahap awal pengembangan model pelatihan berbasis komunitas yang berpotensi diperluas secara bertahap.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, penerapan Bahasa Inggris di MI tidak sekadar menambah mata pelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi madrasah menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan keterhubungan global.

Baca Juga :  Kanker Anak Hambat Pendidikan, Pita Kuning Buka Jalan Baru Raih Mimpi

“Penerapan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah bukan semata-mata penambahan mata pelajaran, tetapi bagian dari ikhtiar mempersiapkan generasi madrasah agar memiliki kemampuan untuk mengakses ilmu pengetahuan dan berinteraksi dengan dunia yang semakin terbuka, tanpa kehilangan akar nilai dan karakter mereka,” ujarnya.

Dia menegaskan, kesiapan guru perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan kebijakan tersebut. Guru perlu memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan agar perubahan kurikulum dapat diikuti dengan peningkatan kualitas pengalaman belajar siswa.

Kolaborasi British Council dan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag ini juga menjadi bagian dari kerja sama pendidikan antara Inggris dan Indonesia.

Keberhasilan penerapan Bahasa Inggris wajib, menurut pendekatan program tersebut, tidak hanya bergantung pada pelatihan guru. Dukungan pimpinan madrasah, termasuk penyediaan waktu dan ruang untuk belajar bersama, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat juga diperlukan untuk membangun lingkungan belajar yang mendukung.

Melalui STEPS-CoP, penguatan kompetensi guru diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih berkualitas dan berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak siswa madrasah di Indonesia.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *