TrenBisnis.co, JAKARTA — Penyakit kanker pada anak tidak hanya menjadi persoalan kesehatan. Pengobatan yang berlangsung panjang berpotensi membuat anak kehilangan kesempatan belajar, bermain, bersosialisasi, hingga mengejar cita-cita.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia melalui kampanye “New Paths to Dreams” yang digelar bertepatan dengan momentum Childhood Cancer Awareness Month pada September 2026.
Kampanye tersebut mendorong masyarakat untuk melihat anak dengan kanker tidak semata-mata sebagai pasien, tetapi sebagai anak yang tetap memiliki hak untuk belajar, tumbuh, bermain, dan menentukan masa depannya.
“Ketika seorang anak mendapatkan diagnosis kanker, statusnya seakan berubah menjadi seorang pasien. Padahal, mereka tetap memiliki hak yang sama sebagai anak-anak, termasuk hak untuk memiliki mimpi dan mencoba mencapainya,” ujar Pembina Yayasan Pita Kuning, Pandji Pragiwaksono dalam Media Gathering di Rumah Pita Kuning, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menurut Pandji, kanker memang dapat mengubah jalur kehidupan seorang anak. Namun, perubahan tersebut tidak semestinya menghilangkan kesempatan mereka untuk mengejar cita-cita.
“Mungkin jalurnya menjadi berbeda dan lebih sulit, tetapi mimpi mereka tetap valid. Karena itu, perjuangan kita bersama adalah membantu mereka menemukan jalan baru untuk mencapai mimpi tersebut,” katanya.
Ketika Sekolah Menjadi Mimpi
Bagi anak pada umumnya, bersekolah, bermain bersama teman, bersepeda atau berlibur merupakan aktivitas sehari-hari. Namun, bagi anak yang menjalani pengobatan kanker, aktivitas tersebut dapat berubah menjadi sesuatu yang sulit dilakukan.
Kemoterapi, kontrol rutin, prosedur medis dan efek samping pengobatan dapat membuat anak harus meninggalkan sekolah dalam waktu lama. Kondisi tersebut pada akhirnya tidak hanya memengaruhi proses pendidikan, tetapi juga perkembangan sosial dan psikologis anak.
Ketua Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, Tyas Amalia mengatakan kebutuhan anak dengan kanker tidak berhenti pada pengobatan medis.
“Anak-anak ini punya mimpi. Kadang bagi kita mimpi itu terlihat kecil atau sederhana, tetapi bagi mereka, untuk bisa kembali ke sekolah, naik sepeda, bermain, atau melihat pantai merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan,” ujar Tyas.
Salah satu kisah tersebut datang dari Riani, atau Cimut. Saat pertama kali didampingi Pita Kuning, Riani masih berusia tiga tahun dan menjalani pengobatan leukemia.
Perjalanan pengobatannya berlangsung bertahun-tahun. Seiring kondisi kesehatannya membaik, Riani kembali menjalani pendidikan dan bahkan menorehkan prestasi di sekolah.
Kini, Riani memiliki cita-cita menjadi guru.
Kisah berbeda datang dari Rendra. Ia memiliki keinginan sederhana untuk kembali bermain sepeda di taman, aktivitas yang sebelumnya menjadi bagian dari kesehariannya.
Bagi Pita Kuning, kisah tersebut menunjukkan bahwa perjuangan anak dengan kanker tidak semata-mata mengenai kesembuhan. Ada masa kanak-kanak yang tetap harus dijaga dan masa depan yang perlu dipertahankan.
Pendampingan Tidak Berhenti di Rumah Sakit
Pita Kuning melihat dampak kanker juga dirasakan oleh keluarga. Orang tua harus membagi waktu antara pekerjaan, kebutuhan rumah tangga dan pengobatan anak, sekaligus menghadapi tekanan emosional dan finansial.
Karena itu, pendampingan yang diberikan Pita Kuning mencakup anak sekaligus keluarga.
Pengawas Yayasan Pita Kuning, Indro Warkop mengatakan, pengalaman menghadapi kanker menunjukkan bahwa penyakit tersebut tidak hanya dirasakan oleh pasien.
“Ketika seseorang dalam keluarga menderita kanker, sebetulnya keluarga itu ikut mengalami perjuangannya. Karena itu, kami tidak hanya mendampingi anak yang sakit, tetapi juga keluarganya,” ujarnya.
Pita Kuning mengembangkan pendekatan pendampingan psikososial melalui pekerja sosial, dukungan psikologis, bantuan nutrisi, serta kegiatan edukatif dan rekreatif.
Pendampingan juga dilakukan dengan pendekatan jemput bola. Tim dapat mendatangi rumah anak maupun rumah sakit, sehingga dukungan tidak berhenti ketika keluarga meninggalkan fasilitas kesehatan.
Menurut Tyas, pendekatan tersebut penting karena tantangan keluarga tidak selalu muncul ketika berada di rumah sakit.
“Tujuan kami bukan hanya berbicara mengenai kesembuhan. Kami ingin anak dan keluarganya tetap memiliki kualitas hidup yang baik selama menjalani perjalanan tersebut,” katanya.
Pita Kuning Dampingi Anak Bertahun-tahun
Pita Kuning telah mendampingi anak dengan kanker sejak 2006 dan resmi menjadi yayasan pada 2007.
Selama hampir dua dekade, yayasan tersebut mengembangkan model pendampingan yang tidak hanya bersifat bantuan sesaat. Sejumlah anak mendapatkan pendampingan selama bertahun-tahun karena proses pengobatan kanker dapat berlangsung panjang.
Pandji mengatakan pendampingan diberikan selama anak masih membutuhkan dukungan, hingga mereka sembuh, meninggal dunia, atau tidak lagi berada dalam kategori usia anak.
“Ini bukan sekadar datang, memberikan bantuan, lalu selesai. Ada anak-anak yang kami dampingi selama bertahun-tahun. Karena itu, komitmen untuk mendampingi mereka juga harus kuat,” ujarnya.
Namun, perluasan pendampingan menghadapi tantangan sumber daya. Semakin banyak anak yang membutuhkan bantuan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pekerja sosial, dukungan nutrisi, pendampingan psikologis dan layanan pendukung lainnya.
Untuk itu, Pita Kuning menilai kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, perusahaan, organisasi, tenaga kesehatan dan media menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan bantuan.
“Perhatian akan membawa bantuan. Bantuan itu kemudian membuat kami memiliki kemampuan untuk mendampingi lebih banyak anak,” kata Pandji.
Membuka Akses Menuju Masa Depan
Melalui New Paths to Dreams, Pita Kuning ingin menggeser cara pandang masyarakat terhadap anak dengan kanker. Mereka bukan hanya pasien yang sedang menjalani pengobatan, melainkan individu yang tetap memiliki kegemaran, kemampuan, harapan dan cita-cita.
Media Gathering pada 8 September 2026 menjadi salah satu rangkaian kampanye untuk meningkatkan kesadaran mengenai dampak kanker terhadap kehidupan anak di luar aspek medis.
Indro menegaskan, upaya membuka jalan baru bagi anak dengan kanker tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan keluarga, tenaga kesehatan, masyarakat, komunitas, mitra, dan tentunya teman-teman media untuk bersama-sama membantu anak-anak ini,” ujarnya.
Menurutnya, tujuan dari gerakan tersebut bukan sekadar memperluas eksistensi Pita Kuning, tetapi menciptakan kesempatan yang lebih besar bagi anak-anak dengan kanker untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
“Ini bukan untuk kepentingan Pita Kuning. Ini untuk kepentingan anak-anak kita, anak-anak yang nantinya akan meneruskan bangsa ini dan kita harapkan dapat membuat kehidupan menjadi lebih baik,” katanya.
Rangkaian kampanye akan dilanjutkan melalui talkshow online “From Surviving to Thriving: Perjalanan Anak Tangguh Melawan Kanker” pada 19 September 2026.
Talkshow tersebut akan menghadirkan dr. Tito Gunantara, Sp.A(K) Onk, Hemato Onkologi Anak Primaya Rajawali Hospital Bandung; Raissa Hadiman, M.Psi., Psikolog, psikolog anak dan remaja sekaligus Co-Founder Personale.id; serta caregiver dan anak-anak yang memiliki pengalaman dalam perjalanan menghadapi kanker.
Bagi Pita Kuning, dukungan terhadap anak dengan kanker tidak boleh berhenti pada upaya membantu mereka melewati pengobatan.
Mereka juga perlu mendapatkan kesempatan untuk kembali belajar, bermain, bersosialisasi dan mempersiapkan masa depan.
Sebab, bagi anak yang menjalani kanker, kembali ke sekolah, bertemu teman atau bermain sepeda bukan sekadar aktivitas sederhana. Hal-hal tersebut dapat menjadi bagian dari proses untuk merebut kembali masa kanak-kanak dan membuka jalan menuju cita-cita.
Melalui New Paths to Dreams, Pita Kuning ingin memastikan bahwa ketika kanker membuat jalan seorang anak berubah, masih ada dukungan yang memungkinkan mereka menemukan jalan baru menuju masa depan.
Editor : Huda

















