TrenBisnis.co, JAKARTA — Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75% memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik. Namun, keberlanjutan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergantung pada stabilitas rupiah dan kembalinya arus dana asing.
Pada perdagangan terakhir, IHSG rebound 1,56% ke level 6.375. Pada saat yang sama, rupiah menguat ke kisaran Rp17.800 per dolar AS.
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan investor masih perlu mencermati pergerakan dana asing setelah keputusan BI tersebut.
Menurutnya, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp468 miliar di pasar reguler pada perdagangan terakhir. Tekanan terutama terlihat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).
Secara year-to-date (ytd), arus keluar dana asing dari pasar saham telah mencapai sekitar Rp102,9 triliun. Kendati demikian, terdapat pembelian selektif pada sejumlah saham, seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) dan PT Timah Tbk. (TINS).
“Pasca RDG, fokus bergeser dari keputusan BI ke efektivitas policy mix dalam menjaga Rupiah sekaligus likuiditas. Dengan global yields kembali naik, keberlanjutan rebound IHSG akan sangat bergantung pada stabilisasi Rupiah dan yang terpenting kembalinya foreign demand pada liquid large caps,” ujar Rully dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9/2026).
Tekanan dari pasar global juga masih menjadi perhatian. Wall Street kembali melemah dengan S&P 500 turun 0,8%, Nasdaq terkoreksi 1,1%, dan Dow Jones turun 0,7%.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun kembali menembus 5,1%. Sementara itu, harga minyak naik hampir 4% di tengah ketidakpastian terkait perkembangan Iran.
Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang penguatan aset domestik meski sentimen dari keputusan BI relatif positif.
Ruang Penguatan SBN
Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengatakan ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, meski arah pasar global akan menjadi faktor penting dalam jangka pendek.
Menurut Jessica, pergerakan suku bunga global akan memengaruhi perekonomian Indonesia, terutama melalui dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.
Dia menilai penggunaan bauran kebijakan (policy mix) oleh BI menunjukkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menghindari tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Efektivitas pendekatan tersebut, lanjutnya, terlihat dari kemampuan BI menjaga rupiah di sekitar Rp17.800 per dolar AS meski indeks dolar AS (DXY) telah mencapai level 101.
“Ruang untuk penguatan masih terbuka, terutama di pasar SBN, dengan foreign participation yang relatif stabil di sekitar 13% dari total outstanding. Kondisi ini juga didukung kebijakan fiskal yang terjaga dan perkembangan di Kementerian Keuangan yang membantu mengembalikan investor confidence,” kata Jessica.
Meski demikian, risiko pelemahan rupiah tetap perlu diperhatikan. Jika rupiah kembali menembus level Rp18.000 per dolar AS, ruang bagi BI untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) masih terbuka.
Jessica menambahkan penggunaan instrumen valas dan kebijakan likuiditas turut memperkuat kebijakan BI yang berorientasi pada pertumbuhan, terutama dalam mendukung penyaluran kredit dan aktivitas ekonomi.
Ke depan, BI diperkirakan cenderung mempertahankan suku bunga sembari mencermati kebutuhan pemberian insentif tambahan, terutama untuk mendorong arus dana asing dan menjaga stabilitas rupiah.
Di sisi lain, penurunan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang kini berada di bawah 7% pada seluruh tenor menunjukkan perubahan kondisi likuiditas.
“Dalam kondisi tersebut, kami melihat SBN dengan tenor medium to long term masih atraktif,” tutup Jessica.
Editor : Huda

















