TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan.
Kendati demikian, investor diingatkan untuk tetap mewaspadai risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan membayangi paruh kedua 2026.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan penegasan status investment grade mencerminkan fundamental fiskal Indonesia masih terjaga, terutama dengan komitmen pemerintah mempertahankan defisit APBN di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menurutnya, keputusan tersebut memberikan keyakinan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Namun, tantangan ke depan tidak hanya berasal dari sisi fiskal, melainkan juga tekanan eksternal serta mulai melambatnya permintaan domestik.
Rully menjelaskan, berbeda dengan S&P yang mempertahankan outlook stabil, lembaga pemeringkat Fitch Ratings dan Moody’s masih memberikan outlook negatif terhadap Indonesia karena mempertimbangkan ketidakpastian kebijakan, risiko fiskal, serta sektor eksternal.
Meski begitu, Mirae Asset menilai risiko utama saat ini bukanlah potensi penurunan peringkat kredit, melainkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global yang belum mereda.
Dia menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6% dalam beberapa tahun ke depan masih tergolong optimistis. Menurutnya, kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, inflasi yang lebih tinggi, serta perlambatan permintaan domestik berpotensi membatasi laju ekspansi ekonomi nasional.
Di sisi fiskal, ruang pemerintah untuk memberikan stimulus dinilai masih terbatas karena komitmen menjaga defisit APBN tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB.
Dalam kondisi tersebut, Mirae Asset merekomendasikan strategi investasi yang lebih defensif dengan memilih emiten berfundamental kuat, memiliki likuiditas sehat, serta mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas pasar.
Rully menyebut saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) masih menjadi pilihan utama perusahaan.
Sementara itu, Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan pasar keuangan global masih dibayangi meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, kenaikan harga minyak Brent hingga sekitar US$83 per barel berpotensi meningkatkan biaya impor energi Indonesia, memperlebar defisit transaksi berjalan, serta mempertahankan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Selain itu, kenaikan harga energi juga dinilai dapat meningkatkan risiko inflasi global sehingga memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama (higher for longer). Kondisi tersebut diperkirakan masih akan menjaga volatilitas pasar keuangan global dalam beberapa waktu ke depan.
Meski demikian, Jessica menilai penegasan kembali status investment grade Indonesia oleh S&P tetap menjadi katalis positif yang dapat menopang minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN), terutama pada tenor pendek hingga menengah, selama kondisi geopolitik tidak mengalami eskalasi lebih lanjut.
Editor : Huda

















