TrenBisnis.co, JAKARTA – Persaingan pusat perbelanjaan di Jakarta semakin bergeser dari sekadar tingkat okupansi menuju kualitas ekosistem ritel. Peritel kini lebih selektif memilih lokasi dengan mempertimbangkan arus pengunjung, produktivitas penjualan, profil konsumen, hingga komposisi tenant.
Berdasarkan Jakarta Retail Market Report Q2 2026 dari Colliers Indonesia, pasar ritel Jakarta melanjutkan pemulihan secara bertahap pada kuartal II/2026. Namun, kinerja antar pusat perbelanjaan semakin menunjukkan perbedaan.
Pada periode tersebut, rata-rata sewa dasar specialty store tercatat sekitar Rp484.393 per meter persegi per bulan, sedangkan service charge berada di kisaran Rp147.206 per meter persegi per bulan.
Colliers mencatat permintaan ruang ritel terutama berasal dari sektor makanan dan minuman (F&B), kecantikan dan kebugaran, pakaian olahraga, hiburan, serta gaya hidup.
Sejumlah merek internasional juga membuka gerai pertamanya di Indonesia, antara lain di Plaza Indonesia, Puri Indah Mall, Lotte Mall, dan sejumlah pusat perbelanjaan lainnya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kategori ritel berbasis pengalaman semakin berperan dalam mendorong permintaan ruang. Konsumen semakin mengalokasikan belanja untuk aktivitas sosial, rekreasi, kesehatan, dan pengalaman gaya hidup.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan kehadiran berbagai konsep baru menunjukkan kepercayaan terhadap pasar konsumen Jakarta masih terjaga. Namun, ekspansi peritel kini dilakukan secara lebih disiplin dan terukur.
“Para peritel semakin membutuhkan lokasi yang tidak sekadar memberikan visibilitas, tetapi juga menawarkan profil konsumen yang sesuai, arus pengunjung yang berkelanjutan, konversi penjualan yang lebih kuat, serta lingkungan penyewa yang mendukung kinerja merek dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurut Colliers, kondisi tersebut membuat strategi tenant curation atau kurasi penyewa menjadi semakin penting bagi pengelola pusat perbelanjaan. Bauran tenant tidak lagi hanya berfungsi untuk mengisi ruang yang tersedia, tetapi menjadi bagian dari strategi untuk membangun ekosistem yang dapat meningkatkan kunjungan dan belanja konsumen.
Kepala Retail Services Colliers Indonesia Sander Halsema dalam insight bertajuk “Building Retail Relevance Through Strategic Tenant Curation” menilai pusat perbelanjaan perlu membangun ekosistem tenant yang saling terhubung dan sesuai dengan segmen konsumen yang dituju.
Kurasi tenant yang tepat dinilai dapat memperkuat identitas pusat perbelanjaan, memperpanjang durasi kunjungan, mendorong kunjungan berulang, sekaligus menciptakan pengalaman yang lebih relevan bagi konsumen.
Selain tenant utama, pengelola mal semakin mengintegrasikan pilihan kuliner, hiburan, kebugaran, layanan penunjang, serta merek yang saling melengkapi untuk membentuk pengalaman berbelanja yang lebih komprehensif.
Colliers memperkirakan pusat perbelanjaan dengan kinerja terbaik ke depan adalah aset yang mampu menyesuaikan bauran tenant dengan perubahan preferensi konsumen, menghadirkan konsep berbasis pengalaman, serta meningkatkan kualitas operasional dan pengalaman pengunjung.
Sebaliknya, pusat perbelanjaan yang masih mengandalkan strategi penyewaan konvensional berpotensi menghadapi tekanan lebih besar dalam mempertahankan tingkat okupansi, pertumbuhan tarif sewa, dan nilai aset dalam jangka panjang.
Dengan demikian, kualitas ekosistem ritel menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan daya saing pusat perbelanjaan Jakarta di tengah perubahan perilaku konsumen dan strategi ekspansi peritel yang semakin selektif.
Editor : Huda

















