TrenBisnis.co, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan terbaru, IHSG tercatat turun 3,39% atau 249,12 poin ke level 7.129,49, melanjutkan tren pelemahan dalam beberapa sesi terakhir.
Hal ini terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian investor di tengah tekanan sentimen global dan minimnya katalis domestik.
Head of Investment Eastspring Investments Indonesia, Liew Kong Qian, menilai kondisi pasar saat ini mencerminkan fase volatilitas tinggi yang dipicu sentimen eksternal.
Menurutnya, Investor cenderung mengadopsi strategi risk-off dengan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman.
Tekanan jual terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar, antara lain BBCA yang terkoreksi 5,84%, DSSA anjlok 10,22%, BREN turun 4,29%, serta BMRI melemah 2,81%.
Baca Juga : Lewat Program ESG, Eastspring Indonesia Gandeng WWF Pulihkan Lingkungan Sumatra
Sejalan dengan pasar saham, pasar obligasi domestik juga berada dalam tekanan. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik di seluruh tenor, dengan yield tenor 10 tahun meningkat 8 basis poin ke level 6,78%, sementara tenor 5 tahun berada di kisaran 6,61%.
Dari sisi global, sentimen pasar dibayangi lonjakan harga minyak yang kembali menembus US$100 per barel. Kenaikan ini dipicu meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama akibat minimnya perkembangan menuju de-eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi energi global, khususnya melalui Selat Hormuz sebagai jalur strategis pasokan minyak dunia. Kondisi ini turut menekan prospek pertumbuhan ekonomi global dan menurunkan selera risiko investor.
Baca Juga : Pasar Bergejolak, Mirae Arahkan Investor ke Saham Bank, Telko, dan Emas
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal, terutama dari sisi subsidi energi. Di sisi lain, nilai tukar rupiah sempat tertekan ke level Rp17.300 per dolar AS sebelum akhirnya menguat tipis 0,37% ke Rp17.229.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing.
Dalam kondisi pasar yang masih minim katalis domestik dan dibayangi ketidakpastian global, penerapan strategi investasi yang disiplin dan terukur menjadi semakin krusial.
Pergerakan jangka pendek yang volatil sebaiknya tidak direspons secara berlebihan, melainkan disikapi dengan pendekatan yang lebih tenang dan terstruktur.
Dengan tetap berfokus pada tujuan jangka panjang serta menerapkan strategi akumulasi secara konsisten dan bertahap, investor dapat menavigasi dinamika pasar dengan lebih optimal.
Editor : Huda


















