Ekonomi Bisnis

Pemerintah dan Industri Perkuat Sinergi untuk Jaga Daya Saing Sektor Minuman Kemasan

TrenBisnis.co, JAKARTA — Pemerintah menegaskan komitmennya memperkuat daya saing industri makanan dan minuman nasional di tengah tekanan ekonomi global melalui penguatan struktur industri, hilirisasi, dan penciptaan iklim usaha yang kondusif.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan investasi dan lapangan kerja.

Perwakilan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Merrijantij Punguan Pintaria mengatakan industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada triwulan I/2026. Dari sektor tersebut, industri makanan dan minuman tetap menjadi penopang utama pertumbuhan manufaktur nasional.

Menurut Merrijantij, pemerintah memahami bahwa ketidakpastian ekonomi global, gejolak nilai tukar, serta meningkatnya biaya produksi menjadi tantangan yang harus dihadapi pelaku industri. Karena itu, Kemenperin terus mendorong berbagai kebijakan strategis untuk memperkuat fondasi industri dalam negeri.

“Kami terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor makanan dan minuman. Sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja,” ujarnya dalam diskusi “Masa Depan Industri Minuman Kemasan 2026” di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

ASRIM bersama pemerintah dan ekonom membahas tantangan serta peluang industri minuman kemasan nasional. (Istimewa)

Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I/2026. Sementara itu, subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional, menjadikannya salah satu motor utama pertumbuhan industri pengolahan.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi industri masih cukup besar. Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak menilai pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, dan belum pulihnya daya beli masyarakat menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

Baca Juga : Bidik Pasar Global, 10 Jenama Kuliner Lokal Binaan Kemenekraf Hadir di CBE 2026

“Permintaan masih ditopang oleh konsumsi domestik, terutama selama Ramadan dan Lebaran. Namun tantangan struktural seperti kenaikan biaya produksi dan lemahnya daya beli tetap menjadi perhatian,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menilai penguatan industri dari hulu hingga hilir menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Kemenperin juga menaruh perhatian pada pengembangan ekosistem industri yang lebih kompetitif agar pelaku usaha mampu menjaga efisiensi dan memperluas pasar di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo menyambut positif langkah pemerintah tersebut. Menurutnya, dukungan regulator diperlukan agar industri mampu mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah berbagai tekanan ekonomi.

Baca Juga : PT Sinar Sosro Gandeng HokBen dan Tetra Pak Kelola Pengelolaan Kemasan Minuman dan Makanan Paska Konsumsi

ASRIM mencatat pertumbuhan industri makanan dan minuman sepanjang 2025 mencapai 6,38 persen. Namun angka tersebut masih berada di bawah tingkat pertumbuhan sebelum pandemi yang sempat mencapai 7 hingga 9 persen.

“Kami mengapresiasi komitmen pemerintah dalam menjaga iklim usaha dan memperkuat sektor manufaktur. Ke depan, yang dibutuhkan adalah kebijakan yang adaptif, kepastian regulasi, serta dukungan terhadap penguatan bahan baku domestik agar industri semakin tangguh,” ujar Triyono.

Ia menambahkan, industri minuman kemasan masih memiliki peluang pertumbuhan yang besar seiring kuatnya pasar domestik Indonesia. Namun, peluang tersebut perlu didukung kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan dunia usaha guna menjaga investasi, daya saing, serta keberlangsungan tenaga kerja nasional.

Dengan kontribusi besar terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja, industri makanan dan minuman dipandang tetap menjadi sektor strategis yang akan terus mendapat perhatian pemerintah dalam agenda penguatan manufaktur nasional.

Editor : Huda

redaksi

Recent Posts

ASTON Kemayoran Tawarkan Wisata ke Kepulauan Seribu untuk Gathering hingga Meeting

TrenBisnis.co, JAKARTA – ASTON Kemayoran City Hotel menawarkan paket perjalanan wisata ke Kepulauan Seribu yang…

7 jam ago

Sabun Krim EKONOMI Berangkatkan 11 Pemenang Umrah

TrenBisnis.co, Jakarta - Mimpi beribadah ke Tanah Suci menjadi kenyataan bagi 11 orang pemenang program…

21 jam ago

Hari Dokter Nasional, Halodoc Apresiasi Dokter dengan Rekor 100 Ribu Konsultasi

TrenBisnis.co, JAKARTA – Halodoc mengapresiasi mitra dokter yang telah melayani lebih dari 100.000 konsultasi melalui…

21 jam ago

Paviliun Raden Saleh Hadirkan Menu Nostalgia Lewat Program A Taste of Home

TrenBisnis.co, JAKARTA — Rasa masakan rumahan menjadi inspirasi Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated, dalam menghadirkan…

1 hari ago

PEVS 2026 Hadirkan Lebih dari 38 Merek, Perluas Ekosistem Kendaraan Listrik

TrenBisnis.co, JAKARTA — Pameran kendaraan listrik PERIKLINDO Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 akan menghadirkan lebih…

1 hari ago

Wealth Wisdom 2026: Permata Bank Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,2 –5,3 Persen

TrenBisnis.co, JAKARTA — Permata Bank memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 –5,3 persen pada 2026–2027 di…

1 hari ago