Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi BisnisUMKM

RPB Minahasa Selatan Ekspor Perdana Produk Sabut Kelapa ke China

×

RPB Minahasa Selatan Ekspor Perdana Produk Sabut Kelapa ke China

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TrenBisnis.co, MINAHASA SELATAN — Rumah Produksi Bersama (RPB) Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, mencatatkan ekspor perdana produk olahan sabut kelapa ke Guangzhou, China, sebagai langkah strategis memperkuat hilirisasi komoditas lokal dan daya saing UMKM di pasar global.

Ekspor yang dilakukan pada Selasa (28/4/2026) tersebut mencakup dua kontainer produk berupa coco fiber, husk chip, dan peat blok dengan total nilai mencapai Rp98,68 juta.

Produk olahan sabut kelapa (ist)

Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Ali, mengatakan capaian ini menjadi bukti nyata transformasi pengelolaan sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi.

“Prestasi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan daerah di pasar internasional,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Minahasa Selatan sendiri merupakan salah satu sentra produksi kelapa terbesar di Sulawesi Utara dengan luas perkebunan mencapai 46.451 hektare.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kelapa di wilayah ini mencapai 43.980 ton pada 2025 atau berkontribusi sekitar 16,4% terhadap total produksi provinsi.

Potensi ekonomi dari pengolahan sabut kelapa dinilai cukup besar. Dari setiap 100 kilogram kelapa, dihasilkan sekitar 25 kilogram sabut yang dapat diolah menjadi 7,5 kilogram coco fiber dan 16 kilogram coco peat.

Di pasar domestik, coco fiber memiliki nilai jual hingga Rp40.000 per kilogram, sementara coco peat sekitar Rp13.000 per kilogram.

Coco fiber sendiri merupakan serat alami yang ramah lingkungan dan memiliki beragam manfaat, mulai dari bahan perlengkapan rumah tangga, komponen industri dan otomotif, hingga media tanam dan geotekstil untuk pencegahan erosi.

RPB olahan kelapa di Minahasa Selatan telah dibangun sejak 23 September 2022 sebagai bagian dari strategi percepatan hilirisasi. Kehadiran fasilitas ini memungkinkan proses produksi yang lebih terintegrasi, sehingga meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pelaku UMKM.

Ali menambahkan, sebelumnya pemanfaatan kelapa oleh petani masih terbatas pada buah, tempurung, dan air. Melalui pendampingan Kementerian UMKM, sabut kelapa yang sebelumnya dianggap limbah kini mampu diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan diminati pasar global.

Ekspor ke China yang merupakan salah satu pasar terbesar produk sabut kelapa dunia menjadi indikator bahwa produk UMKM Indonesia telah memenuhi standar internasional. Indonesia sendiri menyumbang lebih dari 20% perdagangan global produk kelapa dan turunannya.

Ke depan, koperasi pengelola RPB Minahasa Selatan akan meningkatkan kapasitas produksi guna memenuhi permintaan pasar. Model pengembangan RPB juga diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah lain untuk memperkuat ekonomi berbasis komoditas unggulan.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *