TrenBisnis.co, Jakarta — Harga emas global diperkirakan menutup akhir 2025 di level tinggi dan berlanjut menguat pada 2026. Konsensus analis internasional menilai emas masih menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian ekonomi global, arah kebijakan moneter, serta dinamika geopolitik dunia, yang turut memengaruhi pergerakan harga emas di pasar domestik Indonesia.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, khususnya potensi penurunan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed), menjadi faktor utama pendorong harga emas dunia. Analis Goldman Sachs menyebutkan bahwa “lingkungan suku bunga yang lebih rendah dan permintaan safe haven yang kuat berpotensi mendorong harga emas ke level yang lebih tinggi dalam jangka menengah,” yang secara tidak langsung akan berdampak pada kenaikan harga emas berbasis rupiah.
Selain faktor moneter, ketidakpastian geopolitik global turut memperkuat permintaan emas. UBS dalam outlook komoditasnya menilai emas tetap menjadi aset defensif pilihan investor. “Ketegangan geopolitik dan volatilitas pasar membuat emas kembali memainkan perannya sebagai pelindung nilai,” tulis UBS, kondisi yang biasanya mendorong minat masyarakat terhadap emas fisik di dalam negeri.
Dari sisi permintaan, World Gold Council mencatat pembelian emas oleh bank sentral dunia masih berada di level tinggi. Senior Market Strategist World Gold Council, John Reade, menyatakan bahwa akumulasi emas oleh bank sentral mencerminkan strategi diversifikasi cadangan dan penguatan stabilitas ekonomi, yang menopang harga emas global dalam jangka panjang.
Dengan kombinasi faktor global tersebut, harga emas dunia diproyeksikan berada di kisaran US$4.300–US$4.500 per troy ounce pada akhir 2025 dan berpotensi naik ke US$4.900–US$5.500 per troy ounce pada 2026.
Di pasar domestik, pergerakan harga emas akan sangat dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, di mana pelemahan rupiah berpotensi mendorong harga emas fisik menembus level tertinggi baru di Indonesia. (hd)

















