Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi Bisnis

Pasar Industri Greater Jakarta Bertahan di Tengah Iklim Investasi yang Lebih Selektif

×

Pasar Industri Greater Jakarta Bertahan di Tengah Iklim Investasi yang Lebih Selektif

Sebarkan artikel ini

TrenBisnis.co, JAKARTA — Pasar properti industri di Greater Jakarta masih menunjukkan ketahanan pada kuartal II/2026 meski aktivitas transaksi melambat di tengah iklim investasi yang semakin selektif.

Berdasarkan laporan terbaru Colliers Indonesia, serapan lahan industri pada periode April–Juni 2026 mencapai 36,74 hektare. Angka tersebut mencerminkan bahwa investor masih aktif menjajaki peluang investasi, namun proses pengambilan keputusan ekspansi kini berlangsung lebih panjang.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan perlambatan transaksi tidak mencerminkan melemahnya pasar secara menyeluruh.

Menurutnya, perusahaan kini lebih berhati-hati dengan mengutamakan kepastian operasional, kesiapan infrastruktur, serta prospek bisnis jangka panjang.

“Pasar industri Greater Jakarta bukan sedang mengalami perlambatan secara menyeluruh. Pasar memasuki fase investasi baru, di mana perusahaan semakin mengutamakan kepastian operasional, kesiapan infrastruktur, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang sebelum memutuskan untuk berekspansi,” ujar Ferry dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).

Colliers menilai pasar industri saat ini tengah memasuki fase transisi, di mana kualitas investasi menjadi lebih penting dibandingkan besarnya volume transaksi.

Investor tetap memandang Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik, tetapi kini lebih selektif dengan mempertimbangkan kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, dan efisiensi operasional.

Permintaan lahan industri masih didorong oleh sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, seperti pusat data, logistik, industri kendaraan listrik beserta rantai pasoknya, elektronik, barang konsumsi cepat saji (FMCG), layanan kesehatan, hingga ekspansi perusahaan yang telah beroperasi.

Menurut Colliers, sektor-sektor tersebut tetap menjadi penopang pertumbuhan karena didukung oleh tren digitalisasi, konsumsi domestik, serta penguatan rantai pasok nasional.

Di sisi pasokan, total luas kawasan industri di Greater Jakarta pada kuartal II/2026 tercatat tetap berada di kisaran 18.500 hektare. Tidak adanya kawasan industri baru yang selesai dibangun membuat pengembang lebih memilih mengoptimalkan bank lahan yang telah dimiliki.

Strategi tersebut dilakukan melalui pengembangan secara bertahap, penyesuaian masterplan, hingga alih fungsi lahan secara selektif sesuai kebutuhan pasar.

Colliers juga mencatat bahwa kawasan industri dengan infrastruktur yang telah siap memiliki daya saing lebih tinggi.

Ketersediaan utilitas yang andal, kapasitas listrik yang memadai, konektivitas yang baik, serta kepastian operasional menjadi faktor utama dalam menarik investasi, khususnya dari sektor pusat data dan manufaktur berteknologi tinggi.

Ke depan, pasar industri Greater Jakarta diperkirakan masih memiliki prospek positif seiring besarnya pasar domestik Indonesia, berkembangnya infrastruktur digital, dan berlanjutnya program hilirisasi industri.

Meski demikian, Colliers menilai realisasi investasi akan semakin bergantung pada kepastian regulasi, percepatan proses perizinan, pembangunan infrastruktur, serta kesiapan utilitas di kawasan industri.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *