Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi BisnisFinansial

Investasi Sejak Muda Jadi Kunci Lawan Inflasi dan Raih Kebebasan Finansial

×

Investasi Sejak Muda Jadi Kunci Lawan Inflasi dan Raih Kebebasan Finansial

Sebarkan artikel ini

TrenBisnis.co, JAKARTA — Kalangan praktisi pasar modal dan industri keuangan menilai investasi sejak usia muda menjadi salah satu strategi efektif untuk mempercepat kebebasan finansial sekaligus menjaga nilai kekayaan dari dampak inflasi.

Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi literasi keuangan bertajuk Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas yang diselenggarakan Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Praktisi pasar modal global Vier Abdul Jamal, Komisaris PT Aldicitra Sekuritas, mengatakan waktu merupakan aset paling berharga dalam investasi.

Menurutnya, semakin dini seseorang mulai berinvestasi, semakin besar peluang memperoleh manfaat dari pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang.

Ia menjelaskan investasi sejak muda dapat mempercepat tercapainya kebebasan finansial, membangun aset produktif lebih awal, melatih pola pikir jangka panjang, sekaligus membantu menjaga daya beli di tengah inflasi.

“Nilai uang akan terus tergerus inflasi. Karena itu, dana yang hanya disimpan tanpa berkembang akan mengalami penurunan daya beli,” ujarnya.

Vier mencontohkan kinerja sejumlah instrumen investasi yang mampu melampaui laju inflasi dalam jangka panjang. Misalnya harga IPO saham  PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tahun 2000 mencapai Rp1.400. Nilai investasi 10 lot saham BBCA kala itu mencapai Rp1,4 juta.

Berkaca pada harga sekarang dengan memperhitungkan stock split tahun 2001 dan 2021, capital gain saham BBCA sangat besar, mencapai 3.989%.

Contoh lainnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sejak IPO tahun 2023 hingga sekarang mencapai 296% alias 98% per tahun.

Return dua saham itu sudah jauh melampaui rata-rata inflasi 10 tahun sebesar 2,8% per tahun, bahkan saat mencapai puncaknya pada 2022 sebesar 4,21%.

Baca Juga : LAKUEMAS Hadirkan Edukasi dan Solusi Investasi Aman Bagi Masyarakat

Menurutnya, budaya investasi di negara maju seperti Amerika Serikat lebih menekankan investasi jangka panjang melalui strategi compounding, reinvestasi dividen, dollar cost averaging, serta diversifikasi aset.

Sebaliknya, sebagian investor di Indonesia masih berorientasi mengejar keuntungan cepat sehingga mudah panik ketika pasar mengalami koreksi.

Dia juga mengingatkan generasi muda agar menghindari praktik judi online dan mulai mengenal instrumen investasi legal seperti saham, komoditas, maupun aset kripto.

Acara literasi keuangan ini didukung oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), ITSEC Asia, dan PT Smartin Advisor Sistem (SAS).

Pada kesempatan ini, Presiden Direktur Pintu, Andy Putra, mengatakan aset kripto masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Menurutnya, perkembangan regulasi dan adopsi teknologi blockchain membuka peluang semakin luas bagi industri kripto.

Andy menyebut mayoritas investor kripto di Indonesia berasal dari kelompok usia 18—34 tahun. Selain dapat diperdagangkan selama 24 jam, investasi kripto juga dapat dimulai dengan modal relatif kecil sehingga menarik bagi generasi muda.

“Perkembangan tokenisasi aset, termasuk sektor properti, berpotensi memperluas pilihan investasi digital pada masa mendatang.” imbuhnya.

Baca Juga : Punya Fundamental Kuat, BBCA Jadi Andalan Mirae Asset Semester II

Sementara itu, Komisaris PT Aldicitra Sekuritas sekaligus asesor profesi pasar modal, B. Hari Mantoro, menilai inflasi menjadi alasan utama masyarakat perlu beralih dari budaya menabung menuju investasi.

Dia mencontohkan kenaikan harga kendaraan dalam lebih dari tiga dekade terakhir sebagai ilustrasi berkurangnya daya beli uang akibat inflasi.

“Untuk mempertahankan daya beli, masyarakat perlu membangun budaya berinvestasi sejak dini, terutama pada instrumen yang memiliki fundamental kuat,” ujarnya.

Direktur Utama PT Smartin Advisor System, Odang Supriatna, mengatakan perusahaan ingin mendorong lahirnya talenta muda di bidang teknologi keuangan, termasuk pengembang sistem perdagangan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan investor yang memiliki literasi memadai.

Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, mengatakan keamanan siber menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan investasi digital.

Menurutnya, perlindungan terhadap data, sistem, dan transaksi akan memperkuat ekosistem keuangan digital sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang turut mendukung penyelenggaraan kegiatan literasi keuangan tersebut, melalui Direktur Human Capital & Compliance BNI, Mucharom, mengatakan bahwa peningkatan literasi keuangan menjadi fondasi penting bagi kesejahteraan finansial masyarakat dan perlu terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *