Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi BisnisProperti

Pasar Gudang Jabodetabek Makin Ketat, Okupansi Tembus 95,8% pada Kuartal I/2026

×

Pasar Gudang Jabodetabek Makin Ketat, Okupansi Tembus 95,8% pada Kuartal I/2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TrenBisnis.co, JAKARTA — Pasar properti logistik di kawasan penyangga DKI Jakarta memasuki fase pengetatan pasokan pada kuartal I/2026. Berdasar data Colliers Indonesia, tingkat hunian gudang tercatat mencapai 95,8%, mencerminkan tingginya permintaan di tengah keterbatasan ruang, khususnya di lokasi strategis.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan sektor logistik saat ini berada dalam kondisi hampir penuh, berbeda dengan sejumlah subsektor properti industri lainnya.

“Gudang hampir penuh dengan tingkat hunian mencapai 95,8%. Permintaan terus meningkat, terutama didorong oleh e-commerce dan perusahaan third-party logistics (3PL),” ujarnya dalam keterangan resmi.

Seiring tingginya permintaan, tarif sewa gudang masih menunjukkan tren positif, meskipun relatif stabil dengan kenaikan sekitar 2% per tahun.

Dari sisi wilayah, koridor timur—meliputi Bekasi hingga Karawang—masih menjadi kontributor utama pasar. Total pasokan di kawasan ini mencapai sekitar 2,2 juta meter persegi, sekaligus menjadi lokasi dengan tambahan pasokan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Namun demikian, tingginya serapan membuat ruang tersedia kian terbatas. Hingga kuartal I/2026, sisa ruang kosong di koridor timur hanya sekitar 79.000 meter persegi, dengan tingkat hunian mendekati 96%.

“Ini menjadi sinyal keterbatasan ruang, khususnya di lokasi prime. Investor perlu bergerak cepat untuk mengamankan aset logistik strategis,” kata Ferry.

Ia menambahkan, permintaan gudang kini tidak hanya ditopang sektor e-commerce dan 3PL, tetapi juga mulai didorong oleh industri baru seperti kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan energi terbarukan.

“Kehadiran sektor EV dan energi terbarukan memperkuat fondasi pasar logistik dalam jangka panjang,” jelasnya.

Di sisi lain, prospek e-commerce Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan. Nilai transaksi diperkirakan mencapai US$56,8 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi US$76,6 miliar pada 2029.

Jumlah pengguna juga melonjak signifikan, dari sekitar 36 juta pada 2019 menjadi hampir 100 juta dalam satu dekade.

Lonjakan tersebut diperkirakan akan semakin mendorong kebutuhan ruang logistik ke depan.

Secara historis, tingkat hunian di koridor timur juga terus meningkat, dari sekitar 95% pada 2012 menjadi hampir penuh pada 2026. Sementara itu, koridor selatan mencatat tingkat hunian lebih tinggi, yakni mencapai 99%.

Dengan pasokan baru yang terbatas dan ruang kosong yang terus menyusut, tekanan terhadap harga sewa mulai terasa, khususnya di kawasan premium, meskipun kenaikannya masih tergolong moderat.

“Permintaan tinggi, tetapi pasokan terbatas. Kondisi ini menjaga tingkat hunian tetap tinggi dan mendorong kenaikan harga sewa di lokasi premium,” tutup Ferry.

Secara keseluruhan, pasar logistik Jabodetabek kini memasuki fase tight supply, dimana lonjakan permintaan belum sepenuhnya diimbangi tambahan pasokan. Kondisi ini membuka peluang bagi investor, sekaligus menuntut langkah cepat dalam mengamankan aset logistik di lokasi strategis. (Huda)

Photo : GAC Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *