TrenBisnis.co, JAKARTA — Satelit Nusantara Lima (N5) resmi memasuki tahap operasional dan siap dikomersialisasikan setelah diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada September 2025.
Kehadiran satelit berkapasitas terbesar di Asia tersebut diyakini menjadi tonggak penting penguatan konektivitas digital sekaligus mendukung kemandirian antariksa nasional.
Peresmian operasional Satelit N5 dihadiri Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, hingga jajaran pimpinan PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dan Boeing Satellite System International Inc.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pemerintah masih menghadapi tantangan memperluas akses internet berkualitas tinggi ke seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, sekitar 80% populasi Indonesia telah terhubung layanan internet.
“Keinginan kami agar 280 juta warga Indonesia bisa terhubung, tidak hanya daerah dekat Jawa, tetapi juga hingga Sabang, Merauke, Rote, dan Miangas,” ujar Meutya dalam sambutannya, Rabu (13/5/2026).
Dia menilai kehadiran Satelit N5 akan memperkuat tiga pilar utama pemerintah yakni keterhubungan, pertumbuhan, dan keamanan digital nasional.
Pemerintah juga mengapresiasi keberhasilan PSN menyelesaikan seluruh tahapan pengembangan hingga pengoperasian satelit tersebut.
Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara Adi Rahman Adiwoso mengatakan operasional Satelit N5 menjadi simbol penguatan kapasitas nasional di sektor antariksa.
Menurutnya, Indonesia kini menjadi pemain terbesar industri satelit internet di Asia dengan total kapasitas mencapai 403 Gbps.
“Kapasitas Satelit N5 membuka babak baru pengembangan industri antariksa nasional dan memperkuat posisi Indonesia di kawasan,” kata Adi Rahman.
Satelit N5 memiliki spesifikasi Very High Throughput Satellite (VHTS) dengan kapasitas 160 Gbps. Satelit tersebut menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam berbasis frekuensi Ka-band.
Selain melayani Indonesia, cakupan layanan satelit juga menjangkau sejumlah negara ASEAN seperti Malaysia dan Filipina. Satelit berbobot 7,8 ton itu dilengkapi sistem propulsi hybrid berbasis kimia dan Xenon-Ion (XIPS) yang diklaim lebih efisien dibandingkan satelit konvensional.
Untuk mendukung layanan, PSN membangun tujuh stasiun bumi yang tersebar di Banda Aceh, Bengkulu, Cikarang, Gresik, Banjarmasin, Tarakan, dan Kupang. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk memperluas akses internet terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Adi Rahman menilai teknologi satelit kini menjadi indikator penting kemandirian bangsa. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat sovereign capability atau kemampuan strategis nasional di sektor antariksa.
Di sisi lain, President of Boeing Satellite System International Inc Ryan Reid menyebut kolaborasi Boeing dan PSN menjadi bagian penting dalam menghadirkan layanan internet bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah kepulauan.
“Keberhasilan Satelit N5 menunjukkan Indonesia semakin terdepan dalam pemanfaatan teknologi antariksa,” ujarnya.
Selain mengoperasikan Satelit N5, PSN juga memperkenalkan Cerdiq, layanan internet berbasis satelit yang dikembangkan tim Research & Development perusahaan.
Produk user terminal tersebut dirancang ringan dan sederhana untuk mendukung konektivitas berbasis Satelit N5 sekaligus mendorong peningkatan kandungan lokal atau TKDN dalam industri teknologi nasional.
Editor : Huda

















