TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai arah kebijakan fiskal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 akan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi prospek pasar dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Mirae Asset melihat momentum pasar saham domestik mulai membaik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 1,7% ke level 6.502, sedangkan nilai tukar rupiah menguat ke sekitar Rp17.746 per dolar AS.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan kualitas penguatan IHSG juga mulai membaik karena kenaikan indeks tidak lagi terkonsentrasi pada satu saham.
Saham AMMN dan BRMS menjadi penopang utama seiring kuatnya harga emas, sementara BBCA dan BBRI turut memberikan kontribusi terhadap penguatan indeks.
“Momentum IHSG membaik, tetapi kenaikan global yields, volatilitas yen, dan potensi unwind carry trade tetap menjadi risiko eksternal utama,” ujar Rully.
Harga emas masih bertahan di sekitar US$4.500 per troy ounce, didukung prospek penurunan real yields. Namun, risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak masih menjadi perhatian investor.
Di tengah dinamika pasar global tersebut, Mirae Asset menilai RAPBN 2027 menunjukkan perubahan pendekatan fiskal pemerintah. Jika sebelumnya fokus kebijakan lebih banyak diarahkan pada ekspansi program, pemerintah kini memasuki fase optimalisasi anggaran.
Pemerintah menargetkan defisit fiskal pada 2027 sebesar Rp671,2 triliun atau 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pendapatan negara diproyeksikan tumbuh 8,6% menjadi Rp3.426 triliun, sedangkan belanja negara meningkat 6,6% menjadi Rp4.097,2 triliun.
Pada saat yang sama, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2027.
Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa mengatakan tantangan fiskal pada 2027 bukan lagi terletak pada peningkatan kapasitas belanja, melainkan efektivitas penggunaan anggaran.
Hal tersebut tercermin dari rata-rata pertumbuhan anggaran 10 kementerian/lembaga (K/L) terbesar yang diperkirakan berbalik menjadi kontraksi 1,4% pada 2027, setelah tumbuh 38,5% pada 2026. Belanja pegawai juga diproyeksikan turun 34,8%.
“2027 bukan lagi soal meningkatkan belanja, tetapi bagaimana setiap rupiah dapat bekerja lebih keras untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi,” kata Jessica.
Penerimaan Pajak Jadi Penopang
Dari sisi penerimaan, pemerintah menargetkan penerimaan perpajakan mencapai Rp2.908 triliun. Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) diproyeksikan tumbuh 9,9%, sedangkan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN/PPnBM) tumbuh 13,4%.
Mirae Asset menilai implementasi Coretax, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta penguatan aktivitas ekonomi domestik akan menjadi motor utama penerimaan negara.
Dengan demikian, pemerintah diharapkan tidak terlalu bergantung pada keuntungan dari kenaikan harga komoditas atau commodity windfall.
Sementara dari sisi belanja, efisiensi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat membuka ruang realokasi anggaran ke transfer daerah maupun program yang memiliki efek pengganda ekonomi lebih besar.
Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2027 tercatat turun 10,4% menjadi Rp240,2 triliun. Mirae Asset memperkirakan realisasi anggaran MBG pada 2026 berada di kisaran Rp168 triliun hingga Rp192 triliun.
Yield SBN 10 Tahun Berpotensi 7,2%-7,5%
Di sisi pembiayaan, kebutuhan refinancing pemerintah masih relatif besar. Nilai surat berharga negara (SBN) yang jatuh tempo diperkirakan mencapai sekitar Rp878 triliun.
Namun, arus dana dari perusahaan asuransi dan dana pensiun sekitar Rp143 triliun berpotensi menjadi penyangga imbal hasil di tengah kebutuhan penerbitan SBN yang masih tinggi.
Mirae Asset memperkirakan imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun berada pada kisaran 7,2%-7,5% pada 2027.
Kebutuhan penerbitan SBN yang masih besar, risiko nilai tukar rupiah, serta faktor geopolitik diperkirakan membatasi ruang penurunan yield.
Meski demikian, apabila stabilitas rupiah membaik dan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menurunkan suku bunga, yield SBN 10 tahun berpotensi turun ke kisaran 6,6%-6,9%.
“Cerita pasar 2027 akan bertumpu pada efektivitas fiskal dalam menjaga pertumbuhan dan stabilitas Rupiah dalam Bank Indonesia untuk menentukan arah kebijakannya,” tutup Jessica.
Editor : Huda

















