TrenBisnis.co, JAKARTA — Pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan pemulihan secara bertahap pada kuartal II/2026. Berdasarkan laporan terbaru Colliers, perbaikan pasar terutama ditopang aktivitas relokasi perusahaan dan meningkatnya kebutuhan terhadap ruang kantor berkualitas.
Namun, pemulihan tersebut masih berlangsung selektif. Permintaan ruang kantor saat ini lebih banyak berasal dari penyesuaian kebutuhan perusahaan dibandingkan ekspansi bisnis secara besar-besaran.
Kepala Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan penyewa kini semakin selektif dalam menentukan ruang kantor. Faktor kualitas gedung dinilai menjadi pertimbangan penting selain harga dan fleksibilitas sewa.
“Semakin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta juga didorong oleh kebutuhan kualitas, bukan semata-mata oleh harga,” ujar Ferry.
Menurut dia, gedung yang berpotensi pulih lebih cepat merupakan properti yang menawarkan struktur sewa fleksibel, ruang siap pakai, akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan.
Okupansi CBD Capai 76%
Colliers mencatat tingkat okupansi perkantoran di kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD) Jakarta mencapai sekitar 76% pada kuartal II/2026. Sementara itu, gedung kategori premium mencatat tingkat okupansi lebih tinggi, yakni sekitar 83%.
Kinerja tersebut menunjukkan permintaan terhadap gedung perkantoran berkualitas masih relatif kuat di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Di luar kawasan CBD, rata-rata tingkat hunian juga perlahan mendekati 70%.
Meski demikian, pasar perkantoran Jakarta masih menghadapi tantangan berupa tingginya ruang kosong. Total ruang kantor yang belum terserap diperkirakan mendekati 3 juta meter persegi, dengan hampir 60% di antaranya berada di kawasan CBD.
Kondisi tersebut membuat posisi tawar penyewa masih cukup kuat. Pemilik gedung pun menawarkan berbagai insentif untuk menarik penyewa, mulai dari struktur sewa yang lebih fleksibel, periode bebas sewa, dukungan biaya fit-out, hingga insentif komersial lainnya.
Pasokan Baru Terbatas
Dari sisi pasokan, kondisi pasar mulai mendapat dukungan karena tidak ada gedung perkantoran baru yang selesai dibangun di kawasan CBD pada semester I/2026.
Dengan demikian, total pasokan ruang perkantoran CBD Jakarta tetap berada di kisaran 7,4 juta meter persegi pada kuartal II/2026.
Terbatasnya tambahan pasokan dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan memberikan ruang bagi pasar untuk menyerap tingkat kekosongan yang masih tinggi sekaligus mendorong stabilisasi tingkat okupansi.
Colliers melihat tren permintaan juga mulai bergeser. Selain mempertimbangkan harga dan fleksibilitas sewa, perusahaan semakin memperhatikan kesiapan ruang kerja, aksesibilitas transportasi, serta penerapan standar environmental, social, and governance (ESG).
Gedung yang mampu mempercepat proses relokasi dan mendukung keberlangsungan operasional perusahaan dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menarik penyewa.
Permintaan Berpotensi Meningkat
Colliers memperkirakan permintaan ruang perkantoran Jakarta masih akan meningkat hingga akhir 2026. Permintaan tersebut antara lain diperkirakan berasal dari sektor logistik, energi, dan financial technology (fintech), baik dari perusahaan lokal maupun asing.
Kendati demikian, kondisi pasar yang masih berpihak kepada penyewa membuat pemilik gedung perlu mempertahankan fleksibilitas dalam strategi pemasaran.
Menurut Colliers, faktor fleksibilitas, aksesibilitas, keberlanjutan, serta efisiensi total biaya okupansi akan menjadi semakin penting dalam menarik permintaan baru.
Dengan terbatasnya pasokan baru dan meningkatnya kebutuhan terhadap ruang berkualitas, pasar perkantoran Jakarta diperkirakan terus bergerak menuju pemulihan, meskipun prosesnya berlangsung secara bertahap dan selektif.
Editor : Huda

















