Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi Bisnis

Mirae Asset Soroti Kualitas Pertumbuhan Ekonomi, Investor Tetap Selektif

×

Mirae Asset Soroti Kualitas Pertumbuhan Ekonomi, Investor Tetap Selektif

Sebarkan artikel ini

TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,3% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II/2026 belum sepenuhnya mampu mengubah sentimen pelaku pasar.

Investor masih cenderung selektif karena menilai kualitas pertumbuhan ekonomi belum cukup kuat untuk menjadi katalis jangka panjang.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kehati-hatian investor tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski indeks kembali menguat, reli pasar dinilai belum didukung oleh saham-saham berkapitalisasi besar maupun arus masuk dana asing.

“IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, dan ASII,” ujar Rully dalam keterangan resminya, Kamis (6/8/2026).

Dia menjelaskan, pelaku pasar saat ini tidak hanya mencermati besaran pertumbuhan ekonomi, tetapi juga sumber pertumbuhan tersebut. Menurutnya, belum meratanya penguatan saham-saham berkapitalisasi besar menunjukkan investor masih menunggu sinyal yang lebih kuat sebelum meningkatkan eksposur di pasar saham Indonesia.

Rully menilai kondisi itu terlihat dari masih tertekannya sejumlah saham berfundamental kuat seperti TLKM, BBRI, BBCA, ASII, dan BMRI meskipun produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh di atas ekspektasi pasar.

“Selama arus dana asing belum kembali dan saham-saham berkapitalisasi besar belum menunjukkan penguatan yang lebih merata, investor masih cenderung bersikap selektif,” katanya.

Selain itu, Rully menilai penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi oleh sentimen global dibandingkan faktor domestik. Penguatan yen Jepang pascaintervensi terkoordinasi pemerintah Jepang dan Amerika Serikat menekan penguatan dolar AS sehingga turut menopang mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Rully menambahkan reli IHSG masih perlu dicermati hingga terdapat perbaikan yang lebih konsisten pada arus dana asing maupun penguatan saham-saham unggulan.

Sementara itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 memang masih tergolong solid. Namun, kualitas pertumbuhan tersebut dinilai perlu menjadi perhatian karena sebagian besar didorong faktor yang bersifat sementara.

Dia menjelaskan konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi, yakni 16,0% YoY, didorong oleh pembayaran gaji ke-13, belanja pegawai, serta realisasi berbagai program pemerintah. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar PDB justru melambat menjadi 5,1% YoY.

Selain itu, ekspor neto tercatat mengurangi pertumbuhan ekonomi sekitar 0,8 poin persentase akibat laju impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor.

“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II masih terlihat kuat, tetapi sumber pertumbuhannya belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan domestik yang berkelanjutan. Sejumlah faktor pendukung berasal dari belanja pemerintah yang bersifat temporer sehingga ruang penguatannya diperkirakan akan lebih terbatas pada semester kedua,” ujar Novani.

Mirae Asset memperkirakan normalisasi belanja pemerintah pada semester II/2026 serta masih lemahnya kontribusi ekspor berpotensi menekan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2026.

Karena itu, perusahaan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melambat ke bawah 5,0% YoY pada kuartal III/2026 apabila tidak didukung oleh peningkatan investasi dan aktivitas manufaktur yang lebih signifikan.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *