Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi BisnisFinansial

MCorp: Teknologi Asuransi Harus Perkuat Engagement dengan Nasabah

×

MCorp: Teknologi Asuransi Harus Perkuat Engagement dengan Nasabah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TrenBisnis.co, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dan MCorp menilai transformasi digital di industri asuransi tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga harus dibarengi pendekatan human engagement untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Hal tersebut mengemuka dalam Executive Industry Roundtable bertajuk “Optimizing Insurance Selling with Technology: Transforming Digital Insurance with Augmented Human” yang digelar MCorp bersama OJK dan AAJI di Philip Kotler Theater Class, MarkPlus Main Campus, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Kepala Departemen Aktuaria OJK Yusman mengatakan penggunaan artificial intelligence (AI) dan teknologi digital akan menjadi faktor pembeda utama antarperusahaan asuransi dalam beberapa tahun mendatang.

Menurut dia, tantangan industri saat ini bukan lagi soal memilih menggunakan AI atau tidak, melainkan bagaimana teknologi mampu menciptakan pengalaman layanan yang aman, mudah, dan bernilai bagi konsumen.

“Artificial intelligence bukan lagi sekadar alat, tetapi akan berkembang menjadi infrastruktur dalam industri keuangan. Perusahaan yang tidak mampu mengikuti percepatan perubahan ini akan semakin sulit bersaing,” ujar Yusman.

Ia menambahkan, perubahan perilaku masyarakat menuju ekosistem digital juga memunculkan tantangan baru seperti keamanan siber, perlindungan data pribadi, hingga membangun kepercayaan publik terhadap platform digital.

Berdasarkan hasil review OJK terhadap penerapan manajemen risiko teknologi informasi di industri asuransi, sebanyak 22% perusahaan asuransi jiwa dan 18% perusahaan asuransi umum masih berada pada kategori risiko tinggi.

“Penggunaan teknologi bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga bagaimana perusahaan mampu memberikan pelayanan terbaik sekaligus menjaga kepercayaan publik,” imbuh Yusman.

Sementara itu, Kepala Departemen Marketing AAJI Karin Zulkarnaen menilai transformasi digital membuka peluang besar bagi industri asuransi untuk memperluas inklusi dan menjangkau generasi muda.

Dia menyoroti fenomena research online purchase offline (ROPO), di mana konsumen kini lebih banyak mencari informasi produk asuransi secara digital sebelum melakukan pembelian.

“Kalau kita tidak hadir secara online, maka tidak ada harapan produk kita dilirik oleh generasi muda. Customer journey sekarang sudah berubah,” ujar Karin.

Menurut data AAJI, jumlah tertanggung individu di industri asuransi jiwa saat ini masih relatif rendah dibandingkan total populasi Indonesia. Karena itu, digitalisasi dinilai menjadi peluang untuk memperluas akses masyarakat terhadap produk asuransi.

“Opportunity industri asuransi sebenarnya masih sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menemukan pendekatan baru agar masyarakat merasa produk asuransi semakin relevan dengan kebutuhan hidup mereka,” katanya.

Di sisi lain, CEO MCorp Taufik menilai konsep insurtech sebenarnya telah hadir dalam aktivitas sehari-hari masyarakat melalui marketplace, aplikasi perjalanan, hingga layanan perbankan digital lewat konsep microinsurance dan embedded insurance.

Namun, menurut Taufik, tantangan terbesar industri bukan hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga membangun engagement dan edukasi agar masyarakat memahami manfaat asuransi secara lebih dekat.

“Insurtech sebenarnya sudah digunakan masyarakat tanpa disadari. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan engagement agar teknologi tidak berjalan tanpa interaksi manusia,” ujar Taufik.

Dia menambahkan, pendekatan augmented human menjadi penting agar transformasi digital tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga memperkuat hubungan emosional dan pengalaman pelanggan.

Taufik juga menilai pemanfaatan AI dapat membantu meningkatkan literasi dan pengalaman nasabah, mulai dari penyederhanaan informasi polis, proses klaim, hingga edukasi keuangan yang lebih mudah dipahami masyarakat.

“Teknologi seharusnya membantu masyarakat merasa lebih memahami produk asuransi, bukan justru merasa semakin jauh atau rumit,” pungkasnya.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *