TrenBisnis.co, JAKARTA — Industri perhotelan Indonesia memasuki fase penyesuaian strategi di tengah tekanan permintaan dari pasar internasional dan segmen meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) yang belum sepenuhnya pulih.
Operator hotel kini lebih mengandalkan wisatawan domestik dan regional sebagai penopang bisnis, sembari mengedepankan efisiensi operasional dan peningkatan nilai aset.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan pasar hotel masih menghadapi tantangan akibat lemahnya permintaan dari sektor pemerintah, perlambatan wisatawan mancanegara, serta ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi mobilitas internasional.
“Permintaan domestik menjadi penopang utama saat ini. Operator mulai mengubah strategi ke arah efisiensi, peningkatan value, dan menyesuaikan target pasar ke segmen regional maupun leisure,” ujar Ferry dalam Colliers Media Briefing Q1 2026.
Menurutnya, pasar MICE diperkirakan tidak akan kembali sekuat periode sebelum pandemi. Di saat yang sama, belanja pemerintah untuk kegiatan pertemuan juga cenderung menurun sehingga hotel perlu mencari sumber permintaan baru.
Akibatnya, banyak operator mulai mengembangkan paket staycation dan berbagai program yang menyasar wisatawan domestik sebagai pasar utama.
Ferry menilai hingga pertengahan 2026 fokus industri bukan lagi mengejar okupansi setinggi mungkin, melainkan menjaga profitabilitas melalui efisiensi operasional.
“Hotel mulai menyesuaikan jumlah kamar yang dioperasikan, mengoptimalkan produktivitas staf, serta mengendalikan biaya operasional agar margin tetap terjaga,” katanya.
Dari sisi kinerja, rata-rata tarif kamar (Average Room Rate/ARR) di Jakarta memang sempat turun signifikan dari sekitar US$71 pada 2019 menjadi US$49 pada 2020. Meski kembali meningkat hingga 2025, tingkat hunian belum sepenuhnya kembali ke level sebelum pandemi.
Karena itu, menurut Ferry, strategi operator kini lebih berorientasi pada peningkatan tarif kamar yang mampu menghasilkan keuntungan lebih baik dibanding sekadar mengejar volume okupansi.
Rebranding Jadi Strategi Baru
Colliers juga mencatat tren rebranding hotel semakin marak dalam beberapa tahun terakhir. Strategi tersebut dilakukan baik melalui pergantian operator maupun reposisi merek dengan menaikkan kelas hotel.
Beberapa hotel bahkan melakukan transformasi dari kategori budget menjadi hotel berbintang lebih tinggi guna meningkatkan daya saing serta nilai aset.
“Fokus hotel sekarang bukan hanya meningkatkan okupansi, tetapi memperkuat profitabilitas dan meningkatkan value aset. Rebranding menjadi salah satu strategi untuk menarik segmen baru, terutama generasi muda yang lebih memperhatikan desain dan gaya hidup,” ujar Ferry.
Konsep Luxury Bergeser
Di sisi lain, Ferry menilai konsep luxury hospitality juga mengalami perubahan. Kemewahan tidak lagi identik dengan fasilitas fisik semata, melainkan pengalaman menginap yang lebih personal.
Menurutnya, hotel mulai mengedepankan pelayanan yang hangat, pengalaman emosional, konsep wellness, hingga fasilitas eksklusif yang membuat tamu merasa dihargai.
“Luxury sekarang bukan hanya soal bangunan yang mewah, tetapi bagaimana tamu mendapatkan pengalaman yang personal, nyaman, dan pelayanan yang lebih baik,” katanya.
Strategi tersebut dinilai menjadi salah satu cara hotel mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Bali Tetap Jadi Magnet Investasi
Sementara itu, dari sisi pengembangan pasokan, Colliers mencatat hotel bintang lima masih mendominasi proyek baru, terutama di Bali.
Hingga 2029, terdapat sekitar 12 hotel baru yang masuk dalam pipeline pembangunan di sejumlah kawasan seperti Canggu, Ubud, Jimbaran, Nusa Dua, hingga Nusa Penida dengan tambahan lebih dari 2.000 kamar.
Ferry mengatakan minat investor terhadap segmen premium masih tinggi karena wisatawan kini lebih mencari pengalaman menginap yang berkualitas dibanding sekadar tempat bermalam.
Meski demikian, sektor pariwisata nasional masih menghadapi tantangan. Persaingan dengan destinasi regional seperti Vietnam, Thailand, dan Jepang semakin ketat, sementara Indonesia masih sangat bergantung pada Bali yang menyumbang sekitar 45% pasar pariwisata nasional.
Menurut Colliers, kondisi tersebut membuat operator hotel perlu semakin adaptif dalam membaca perubahan permintaan.
Ke depan, strategi yang menggabungkan efisiensi operasional, pengalaman menginap yang personal, serta optimalisasi nilai aset diperkirakan akan menjadi kunci menjaga kinerja industri perhotelan di tengah dinamika pasar.
Editor : Huda | Photo : Dok. InJourney Hospitality

















