Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi BisnisFinansial

IHSG Terkoreksi 8,69% dalam Sepekan, Mirae Asset Soroti Lonjakan Risk Premium

×

IHSG Terkoreksi 8,69% dalam Sepekan, Mirae Asset Soroti Lonjakan Risk Premium

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tingginya risk premium menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan pasar keuangan domestik, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami koreksi tajam dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data perdagangan periode 2–5 Juni 2026, IHSG terkoreksi 8,69%. Tekanan berlanjut pada sesi pertama perdagangan Senin (8/6/2026) dengan pelemahan sebesar 2,87% ke level 5.434.

Tidak hanya pasar saham, tekanan juga terlihat di pasar obligasi dan nilai tukar. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke kisaran 7,27%, sementara rupiah bergerak mendekati level terlemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kenaikan yield SBN mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil tersebut juga tidak terlepas dari koordinasi kebijakan Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan yang berupaya meningkatkan daya tarik aset domestik bagi investor asing.

“Kenaikan imbal hasil ini merupakan bagian dari upaya koordinasi BI dan Kemenkeu untuk meningkatkan daya tarik carry rupiah bagi investor portofolio asing. Namun, dampaknya terhadap rupiah masih terbatas dan memang tidak realistis untuk diharapkan bekerja hanya dalam waktu singkat,” ujar Rully dalam keterangan resmi Selasa (9/6/2026).

Rully menjelaskan efektivitas kebijakan tersebut masih menghadapi tantangan dari faktor eksternal. Salah satunya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia serta memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi dalam periode yang lebih lama.

Kondisi tersebut mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman. Dampaknya, tekanan tidak hanya dirasakan pasar saham Indonesia, tetapi juga tercermin pada pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Di sisi lain, Mirae Asset menilai Indonesia perlu memperkuat komunikasi kebijakan untuk membantu meredam lonjakan risk premium yang telah meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

“Indonesia masih perlu memperkuat komunikasi kebijakan untuk mengurangi risk premium yang sudah naik signifikan. Jika risk premium tidak berhasil diturunkan, tekanan terhadap valuasi IHSG berpotensi berlanjut ke depan,” kata Rully.

Ke depan, pergerakan pasar keuangan domestik diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika sentimen global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kemampuan otoritas menjaga kepercayaan investor.

Penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dinilai menjadi faktor penting untuk membuka peluang pemulihan pasar saham dalam jangka pendek hingga menengah.

Mirae Asset menilai keberhasilan menjaga persepsi risiko Indonesia akan menjadi kunci dalam menarik kembali aliran modal asing dan menopang valuasi aset domestik di tengah ketidakpastian pasar global yang masih tinggi.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *