Ekonomi Bisnis

Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi, Sentimen Geopolitik Dorong Minat Safe Haven

TrenBisnis.co, Jakarta — Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada awal pekan perdagangan. Logam mulia terpantau menguat signifikan hingga menyentuh level US$4.694 per troy ounce, atau naik sekitar 2,03% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.

Kenaikan ini menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Penguatan harga emas didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan sejumlah negara, yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global.

Sentimen tersebut tercermin dari lonjakan indeks volatilitas (VIX) yang naik sekitar 21% ke level 19, setelah sebelumnya bergerak relatif stabil di kisaran 13–15. VIX dikenal sebagai indikator ketakutan pasar, sehingga kenaikannya mengindikasikan pergeseran investor ke aset safe haven seperti emas.

Selain faktor geopolitik, lonjakan harga emas juga sejalan dengan kenaikan sejumlah komoditas global yang bergerak agresif dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menandakan pasar global tengah memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko dan memilih instrumen yang dianggap lebih aman.

Baca Juga : Layanan Bank Emas Pegadaian Cetak Kinerja Gemilang

Di dalam negeri, tren penguatan emas global turut berdampak pada harga emas digital, yang bergerak volatil dan mencatatkan rekor baru. Kenaikan tersebut memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen investasi, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Ke depan, peluang penguatan emas masih terbuka. Secara sentimen dan teknikal, harga emas global berpotensi melanjutkan tren naik dengan target psikologis di kisaran US$4.700–US$4.800 per troy ounce pada periode Februari hingga akhir Maret 2026. Pada level tersebut, harga emas digital diproyeksikan berpeluang menembus Rp2,7 juta per gram.

Baca Juga: Harga Emas Diproyeksikan Tetap Kuat hingga 2026

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati dinamika pasar global serta risiko volatilitas yang masih tinggi. Selama ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global belum mereda, emas diperkirakan akan tetap menjadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai. (*)

Editor : Huda

sumber : laku emas

redaksi

Recent Posts

Tiga Model Honda Ini Jadi Jawara di Otomotif Award 2026

TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Honda Prospect Motor (HPM) kembali menorehkan prestasi di industri otomotif nasional…

14 jam ago

IKA Unpad Bentuk Forum Ekonomi Hijau, Dorong Kolaborasi Percepat Transisi Ekonomi Berkelanjutan

TrenBisnis.co, JAKARTA — Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) menginisiasi pembentukan Forum Ekonomi Hijau (FEH)…

15 jam ago

PUDP Tetapkan Susunan Direksi dan Komisaris Baru 2026–2029, Tebar Dividen Rp1 per Saham

TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Pudjiadi Prestige Tbk. (PUDP) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp1 per…

1 hari ago

Industri Wellness Indonesia Tumbuh Pesat, Bali Didorong Jadi Pusat Kesehatan Dunia

TrenBisnis.co, DENPASAR — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong Bali menjadi pusat industri…

1 hari ago

AstraZeneca dan Dharmais Perkuat Diagnostik Presisi Kanker Lewat Teknologi NGS

TrenBisnis.co, JAKARTA — AstraZeneca Indonesia menggandeng Rumah Sakit Kanker Dharmais untuk memperkuat layanan diagnostik presisi…

2 hari ago

Songgoriti Ridge Run 2026 Tarik Ratusan Pelari, Perkuat Sport Tourism Kota Batu

TrenBisnis.co, BATU— Ajang lari lintas alam Songgoriti Ridge Run 2026 sukses digelar di Jambuluwuk Batu…

2 hari ago