BERITA

Sejalan dengan Pemerintah, SUN Energy Perkuat Percepatan Dekarbonisasi Industri

TrenBisnis.co. Jakarta — Dekarbonisasi industri semakin mendesak di tengah tekanan regulasi, tuntutan pasar global, dan perubahan rantai pasok internasional. Sektor industri Indonesia tidak lagi hanya dituntut tumbuh, tetapi juga beroperasi secara efisien, rendah emisi, dan berdaya saing global.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penerapan Standar Industri Hijau (SIH) sebagai instrumen transformasi industri. Hingga kini, lebih dari 150 perusahaan telah tersertifikasi SIH.

Dari kiri ; Oky Gunawan – Chief Sales Officer SUN Energy, Robert Sweigart – Head of CCC PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Karina Darmawan – CEO SUN Mobility, Sri Gadis Pari Bekti – Ketua Tim Dekarbonisasi Industri, Kementerian Perindustrian dan E. Jefferson Kuesar – CEO SUNEnergy. (ist)

Penerapan standar ini juga terintegrasi dengan berbagai kebijakan nasional, termasuk PROPER, RPJMN, dan komitmen Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC), serta sebagai respons atas tekanan global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa dan tuntutan transparansi ESG.

Baca Juga : Astra Dukung Transisi Energi Melalui kumparan Green Initiative Conference 2025

Ketua Tim Dekarbonisasi Industri Pusat Industri Hijau Kemenperin, Sri Gadis Pari Bekti, menegaskan bahwa dekarbonisasi industri merupakan prasyarat utama pencapaian emisi nol bersih pada 2050.

Pemerintah mendorong pembentukan ekosistem industri hijau yang ditopang oleh ketersediaan energi rendah karbon, pendanaan inklusif, serta kebijakan dan regulasi yang terintegrasi.

Dalam hal ini, pemerintah juga mempersiapkan penerapan Emission Trading System (ETS) sektor industri sebagai instrumen carbon pricing yang diharapkan mampu melindungi industri nasional dari risiko penyesuaian karbon lintas batas.

Baca Juga : Indonesia-Turki Perkuat Transisi Energi Bersih Pengembangan Panas Bumi

Di sisi implementasi, adopsi energi terbarukan di sektor industri terus meningkat. Data Kementerian ESDM menunjukkan kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap nasional telah mencapai 495 MW per Juni 2025. Energi surya dinilai menjadi solusi paling konkret dalam penerapan SIH karena mampu langsung menurunkan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya energi dan ketahanan pasokan listrik industri.

Sejalan dengan itu, SUN Energy memperkuat perannya sebagai mitra transformasi industri melalui penyediaan solusi keberlanjutan terintegrasi. Hingga 2025, perusahaan telah mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS dengan total kapasitas terpasang di atas 240 MW yang tersebar di lebih dari 50 sektor industri.

Proyek tersebut menghasilkan sekitar 322,3 juta kWh listrik bersih per tahun dan berkontribusi menurunkan emisi karbon hingga 250,8 juta kg CO₂e per tahun.

CEO SUN Energy, E. Jefferson Kuesar, menyatakan bahwa dekarbonisasi kini telah menjadi kebutuhan strategis industri, bukan sekadar kepatuhan regulasi.

Melalui pendekatan Sustainability-as-a-Service, SUN Energy menghadirkan ekosistem solusi yang mencakup PLTS industri dan komersial, sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS), pengelolaan sumber daya air berkelanjutan, hingga elektrifikasi armada kendaraan operasional.
Elektrifikasi armada menjadi salah satu akselerator penting dalam upaya penurunan emisi, khususnya bagi sektor dengan intensitas operasional tinggi.

Melalui unit bisnis SUN Mobility, perusahaan menawarkan solusi end-to-end dengan potensi penghematan biaya bahan bakar hingga 85% dibandingkan armada diesel konvensional, sekaligus memungkinkan transisi menuju operasional rendah emisi secara bertahap.

Ke depan, integrasi kebijakan pemerintah dan solusi keberlanjutan terintegrasi diyakini menjadi kunci peningkatan daya saing industri nasional sekaligus mendukung percepatan pencapaian target Net Zero Emissions 2060. (*)

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *