TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan laba bersih sebesar Rp12,53 triliun pada semester I/2026 atau turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp15,52 triliun.
Penurunan tersebut terjadi di tengah melemahnya kontribusi bisnis solusi pertambangan dan alat berat, meski segmen otomotif serta jasa keuangan masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan bersih Astra pada enam bulan pertama 2026 mencapai Rp157,91 triliun, turun 3% dibandingkan Rp162,86 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Jika tidak memperhitungkan pos non-recurring, laba bersih Astra mencapai Rp14,89 triliun atau turun 7% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih per saham tanpa memperhitungkan pos non-recurring turun 6% menjadi Rp372.
Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan kinerja grup masih ditopang oleh pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat menyebabkan laba bersih konsolidasi terkoreksi.
“Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus menjalankan strategi korporasi baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi, serta kekuatan neraca keuangan Astra yang didukung alokasi modal yang disiplin,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026).
Perseroan mencatat pos non-recurring sebesar Rp2,36 triliun yang terutama berasal dari penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment).
Otomotif dan Jasa Keuangan Jadi Penopang
Segmen otomotif membukukan laba bersih Rp5,91 triliun atau naik 9% dibandingkan semester I/2025. Kinerja tersebut ditopang peningkatan penjualan mobil baru serta kontribusi yang lebih tinggi dari bisnis komponen.
Secara nasional, penjualan mobil meningkat 16% menjadi 437.000 unit pada semester pertama 2026. Sementara penjualan mobil Grup Astra naik 10% dengan pangsa pasar tetap dominan sebesar 51% melalui merek Toyota dan Daihatsu.
Di sisi lain, penjualan sepeda motor nasional naik 1% menjadi 3,1 juta unit. Penjualan Honda juga tumbuh 1% dengan pangsa pasar mencapai 77%.
Sementara itu, bisnis jasa keuangan mencatatkan laba bersih Rp4,65 triliun atau meningkat 6% secara tahunan. Pertumbuhan didukung kenaikan pembiayaan baru menjadi Rp61,8 triliun atau naik 10%, terutama dari pembiayaan otomotif dan multi-cycle.
Kontribusi laba perusahaan pembiayaan sepeda motor meningkat menjadi Rp2,4 triliun, sedangkan pembiayaan mobil menghasilkan laba Rp1,2 triliun. Bisnis asuransi Astra juga membukukan kenaikan laba 7% menjadi Rp906 miliar.
Bisnis Pertambangan Tertekan
Berbeda dengan dua segmen tersebut, bisnis solusi pertambangan dan alat berat membukukan laba bersih Rp2,7 triliun atau turun 46% dibandingkan tahun lalu.
Penurunan dipicu minimnya penjualan emas dari tambang Martabe akibat penghentian sementara operasional pada awal tahun, serta dampak penurunan kuota produksi batu bara nasional yang menekan permintaan alat berat dan jasa penambangan.
Penjualan alat berat Komatsu turun 27% menjadi 1.994 unit, sementara penjualan batu bara milik sendiri turun 10% menjadi 6 juta ton.
Adapun penjualan emas anjlok menjadi 23.000 ons dari sebelumnya 125.000 ons pada semester I/2025. Astra menyebut operasional tambang Martabe telah kembali berjalan sejak kuartal II/2026.
Fokus Tiga Bisnis Inti dan Buyback Rp10 Triliun
Sejalan dengan strategi korporasi baru yang diumumkan pada Mei 2026, Astra menetapkan fokus pada tiga bisnis inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Perseroan juga menjalankan kerangka alokasi modal yang lebih disiplin, termasuk melalui program pembelian kembali saham.
Setelah menyelesaikan program buyback senilai Rp7,4 triliun bersama PT United Tractors Tbk. hingga akhir Juni 2026, Astra kembali memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melakukan buyback baru hingga Rp8 triliun selama 12 bulan.
Di saat yang sama, United Tractors juga mengumumkan program buyback hingga Rp2 triliun untuk periode tiga bulan.
Selain itu, Astra mulai menerapkan Management Share Ownership Program (MSOP) jangka panjang sebagai upaya menyelaraskan insentif manajemen dengan penciptaan nilai bagi pemegang saham.
Hingga akhir Juni 2026, nilai aset bersih per saham Astra meningkat 1% menjadi Rp5.763, sedangkan ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp230,07 triliun.
Editor : Huda
TrenBisnis.co, JAKARTA — Tren pertemuan bisnis kini tidak lagi hanya mengutamakan fasilitas, tetapi juga kenyamanan…
TrenBisnis.co, JAKARTA – Menghadiri pameran, konferensi, atau konser di JIEXPO Kemayoran kini semakin mudah bagi…
TrenBisnis.co, JAKARTA – Tren hunian modern kini tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga mulai mengakomodasi…
TrenBisnis.co, JAKARTA – Bagi wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis yang mencari hotel di Jakarta dengan…
TrenBisnis.co, TANGERANG — MINI Indonesia memanfaatkan ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 untuk…
TrenBisnis.co, BANDUNG - Bagi yang sedang menikmati suasana malam di kawasan Jalan Braga, Bandung, kini…