Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi Bisnis

Ketidakpastian Global Tahan Relokasi Kantor, Akses Transportasi Menentukan Pilihan Penyewa

×

Ketidakpastian Global Tahan Relokasi Kantor, Akses Transportasi Menentukan Pilihan Penyewa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TrenBisnis.co, JAKARTA — Pasar perkantoran Jakarta masih berada dalam fase tenant market pada kuartal II/2026. Meski permintaan mulai membaik dibandingkan tahun lalu, tingkat ruang kosong yang masih tinggi membuat pemilik gedung terus mengandalkan berbagai insentif untuk menarik penyewa.

Berdasarkan riset Colliers, total pasok ruang perkantoran di Jakarta mencapai sekitar 11 juta meter persegi, dengan sekitar 65% berada di kawasan pusat bisnis (CBD). Saat ini terdapat sekitar 3 juta meter persegi ruang kosong, sementara pasok baru diperkirakan tetap terbatas karena pengembang masih menahan pembangunan proyek baru.

Head of Office Services Colliers Indonesia, Bagus Adikusumo, mengatakan ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang membuat banyak perusahaan menunda relokasi maupun ekspansi kantor.

“Banyak perusahaan saat ini memilih status quo. Mereka belum berani melakukan relokasi karena masih melihat perkembangan kondisi ekonomi dan geopolitik. Sebagian besar memilih memperpanjang masa sewa atau tetap bertahan di lokasi yang ada,” ujar Bagus saat Colliers Media Briefing, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, permintaan ruang perkantoran pada 2026 memang meningkat dibandingkan 2025. Namun, kenaikan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penyerapan ruang secara signifikan karena perusahaan masih fokus menjalankan strategi efisiensi.

Di tengah kondisi tersebut, preferensi penyewa juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya tarif sewa menjadi pertimbangan utama, kini kualitas gedung, efisiensi operasional, serta akses terhadap transportasi publik menjadi faktor yang lebih menentukan.

“Sekarang bukan hanya soal harga sewa. Perusahaan sangat mempertimbangkan akses menuju MRT maupun Commuter Line karena itu berkaitan langsung dengan kenyamanan dan efisiensi mobilitas karyawan,” kata Bagus.

Dia menambahkan gedung yang berada di sekitar jaringan transportasi massal memiliki daya tarik lebih tinggi karena mampu mempersingkat waktu tempuh pekerja sekaligus mendukung produktivitas perusahaan.

Riset Colliers juga menunjukkan ruang kosong di kawasan CBD mencapai sekitar 1,76 juta meter persegi, dengan sebagian besar berada di koridor Sudirman. Di luar CBD, ruang kosong mencapai sekitar 1,23 juta meter persegi dan terkonsentrasi di Jakarta Selatan.

Tingginya tingkat kekosongan membuat pemilik gedung masih menawarkan berbagai insentif, mulai dari fleksibilitas masa sewa, dukungan biaya fit-out, hingga penyediaan kantor siap pakai (fitted out office) agar proses relokasi dapat dilakukan lebih cepat.

Menanggapi tren sejumlah pengelola gedung yang mengubah area parkir menjadi lapangan futsal atau fungsi komersial lain, Bagus menilai langkah tersebut dapat menjadi alternatif untuk mengoptimalkan aset, tetapi bukan solusi utama bagi pasar perkantoran.

“Kalau memang area parkir berlebih dan ada kebutuhan dari lingkungan sekitar, itu bisa menjadi salah satu opsi. Namun, fokus utama tetap meningkatkan tingkat hunian gedung. Yang dicari penyewa saat ini adalah fleksibilitas, kualitas gedung, dan lokasi yang mudah diakses,” ujarnya.

Colliers memperkirakan pasar perkantoran Jakarta masih akan didominasi penyewa dalam jangka pendek. Karena itu, pemilik gedung diperkirakan tetap mengedepankan strategi fleksibilitas dan peningkatan kualitas bangunan, sementara gedung premium di lokasi strategis berpotensi menjadi segmen yang lebih cepat pulih dibandingkan kelas lainnya.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *