TrenBisnis.co, JAKARTA — Industri plastik dan kemasan nasional menghadapi tekanan biaya produksi yang semakin besar di tengah ketidakpastian rantai pasok global dan tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku.
Kondisi tersebut mendorong pelaku industri untuk mencari berbagai strategi efisiensi guna menjaga profitabilitas dan keberlanjutan operasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor plastik dan turunannya mencapai sekitar US$2,55 miliar pada kuartal I/2026. Sebagian besar impor tersebut masih berupa bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri.
Sementara, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia menunjukkan perbaikan dan mengindikasikan stabilisasi aktivitas produksi setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Meski demikian, tantangan industri masih cukup berat akibat tekanan inflasi, volatilitas harga bahan baku, serta gangguan rantai pasok global yang berdampak pada biaya operasional.

Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) Syah Reza mengatakan efisiensi operasional menjadi salah satu aspek yang dapat dikendalikan langsung oleh perusahaan untuk menjaga daya saing di tengah kondisi pasar yang dinamis.
“Optimalisasi pelumasan sintetis menjadi langkah strategis untuk meningkatkan keandalan peralatan produksi, menekan downtime, meningkatkan efisiensi energi, menjaga stabilitas produksi, serta mengendalikan biaya operasional secara lebih konsisten,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga : Harga Plastik Naik Efek Konflik Global, Pemerintah Siapkan Strategi Selamatkan UMKM
Menurutnya, keandalan mesin menjadi faktor krusial bagi industri plastik yang mengandalkan proses produksi berkelanjutan. Gangguan pada peralatan dapat memicu kerugian akibat berhentinya produksi hingga meningkatnya biaya perawatan.
EMLI mencatat lebih dari 60% kegagalan mesin berkaitan dengan praktik pelumasan yang tidak optimal. Karena itu, penggunaan pelumas sintetis dinilai mampu memberikan perlindungan lebih baik dibandingkan pelumas konvensional, terutama dalam menjaga performa mesin pada kondisi operasional yang berat.
Selain meningkatkan keandalan peralatan, penggunaan pelumas sintetis juga dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi. Teknologi tersebut disebut mampu menurunkan suhu operasional mesin hingga 8,3 derajat Celsius sehingga memperpanjang masa pakai pelumas hingga dua kali lipat.
Dari sisi konsumsi energi, pelumas sintetis juga berpotensi menekan penggunaan energi hingga 10%, sekaligus membantu memperpanjang umur peralatan produksi. Efisiensi tersebut menjadi penting bagi industri yang tengah menghadapi kenaikan berbagai komponen biaya operasional.
Baca Juga : Pemerintah dan Industri Perkuat Sinergi untuk Jaga Daya Saing Sektor Minuman Kemasan
Tidak hanya itu, peningkatan keandalan mesin juga berkontribusi pada produktivitas tenaga kerja melalui berkurangnya kebutuhan intervensi manual dan aktivitas pemeliharaan yang tidak terencana.
Untuk mendukung implementasi efisiensi tersebut, EMLI menawarkan layanan terintegrasi seperti MACHINEXT dan MobilSM Lubricant Analysis (MLA). Layanan ini memungkinkan perusahaan melakukan pemantauan kondisi pelumas dan grease secara berkala guna mendeteksi potensi masalah peralatan sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih serius.
Pendekatan berbasis pemantauan kondisi peralatan tersebut dinilai semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap sistem pemeliharaan prediktif yang mampu menekan biaya perawatan sekaligus menjaga kontinuitas produksi.
Di tengah tekanan biaya yang masih membayangi sektor manufaktur, optimalisasi penggunaan pelumas dan penerapan sistem pemantauan berbasis data dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga efisiensi biaya serta memperkuat daya saing industri plastik nasional dalam jangka panjang.
Editor : Huda


















