TrenBisnis.co, Jakarta – Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Moraza menilai penguatan kewirausahaan, khususnya di kalangan generasi muda, menjadi faktor krusial dalam menghadapi puncak demografi Indonesia yang diperkirakan terjadi pada 2030.
Menurutnya, kewirausahaan tidak hanya berperan dalam menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
“Penguatan kewirausahaan harus terus didorong agar Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi secara optimal,” ujar Helvi dalam Dialog Menuju Kesejahteraan Antargenerasi di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Ia mengungkapkan, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional telah mencapai sekitar 63 persen.
Baca Juga : Kementerian UMKM Resmikan Klinik UMKM Bangkit di Sumbar
Selain itu, pengembangan kewirausahaan dinilai mampu mendorong peningkatan pendapatan per kapita Indonesia dari US$5.083,4 pada 2025 menjadi kisaran US$7.400–US$8.240 pada 2029, hingga mencapai US$23.000–US$30.300 pada 2045.
Meski demikian, Helvi menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi sektor UMKM. Sebanyak 99 persen pelaku usaha masih berada pada skala mikro, sementara akses pembiayaan formal baru mencapai sekitar 19,4 persen dari total kredit perbankan.
Selain itu, pelaku UMKM juga menghadapi keterbatasan dalam akses pasar global, kemitraan, kapasitas usaha, pemanfaatan teknologi, hingga pemenuhan standar produk.
“Pengembangan kewirausahaan harus didukung oleh ekosistem yang inklusif, produktif, dan berdaya saing,” jelasnya.
Dalam konteks ketenagakerjaan, Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 198,3 juta pekerjaan layak pada 2045. Peningkatan rasio kewirausahaan menjadi salah satu solusi strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Helvi menyebutkan, rasio kewirausahaan yang telah mencapai 3,29 persen pada 2025 berkontribusi terhadap penciptaan sekitar 52,5 juta peluang kerja. Ke depan, rasio tersebut ditargetkan meningkat menjadi 3,60 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mendorong pendekatan ekosistem kewirausahaan yang terintegrasi melalui penguatan kebijakan, akses pembiayaan, inkubator bisnis, inovasi teknologi, serta akselerasi transformasi digital.
Selain itu, integrasi program kewirausahaan ke dalam berbagai kebijakan nasional dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan ekonomi.
Helvi menegaskan, pembangunan kewirausahaan tidak dapat dilakukan secara parsial. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan generasi muda menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem yang kuat.
Baca Juga : Kementerian UMKM Fasilitasi Akses KPP bagi UMKM Ekosistem Perumahan
Kementerian UMKM, lanjutnya, terus memperkuat sinergi lintas sektor melalui sejumlah program strategis seperti Entrepreneur Hub, Kartu Usaha Produktif, serta Transformasi Usaha.
Dalam kesempatan tersebut, Helvi juga meluncurkan buku kebijakan berbasis National Transfer Accounts (NTA) berjudul Investasi Antargenerasi: Arah Baru Kebijakan Indonesia di Akhir Transisi Demografi yang disusun bersama Kementerian PPN/Bappenas dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Buku tersebut diharapkan menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan berbasis data, khususnya untuk memahami distribusi ekonomi antar kelompok usia dan mendukung strategi pengembangan kewirausahaan nasional. (*)
Editor : Huda

















