Ekonomi Bisnis

Rumah123 Mencatat Suplai Rumah Sekunder Turun 9,2%, Harga Hunian Kecil Jakarta Pusat Naik 36,4%

TrenBisnis.co, Jakarta – Pasar properti sekunder Indonesia menunjukkan anomali positif di awal 2026. Di tengah tekanan inflasi, volatilitas pasar modal, dan ketidakpastian nilai tukar, suplai rumah justru menyusut tajam sementara harga tetap bertahan. Kondisi ini menegaskan peran properti sebagai aset defensif yang kuat.

Flash Report Februari 2026 by Rumah123 mencatat volume suplai rumah sekunder turun 9,2% secara tahunan (YoY) dan melemah 1,7% secara bulanan (MoM). Di saat yang sama, harga rumah nasional masih tumbuh 0,7% YoY, menandakan pasar tidak kehilangan minat, melainkan sedang melakukan penyesuaian terhadap dinamika ekonomi makro.

Fenomena ini terjadi ketika inflasi tahunan (IHK) Januari 2026 tercatat naik ke 3,55%. Alih-alih melepas aset untuk menjaga likuiditas, pemilik properti justru menahan unitnya. Strategi ini mencerminkan meningkatnya fungsi properti sebagai penjaga nilai kekayaan (store of value) di tengah risiko pelemahan daya beli dan fluktuasi instrumen finansial lain.

Baca Juga : 123 Property Recap 2025: Generasi Muda Dominasi Pencarian Hunian

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menilai kondisi tersebut sebagai respons rasional pasar.
“Ketika inflasi bergerak di atas pertumbuhan harga rata-rata, pemilik properti memilih menahan aset. Ini bukan sinyal pelemahan permintaan, melainkan bukti kuatnya holding power pemilik aset di Indonesia dalam menjaga nilai kekayaan mereka dari tekanan inflasi,” ujarnya.

Dari sisi regional, arus peluang investasi mulai bergeser ke luar Jabodetabek. Yogyakarta mencatat pertumbuhan harga 5,2% YoY, disusul Medan sebesar 3,8% YoY. Keduanya berhasil melampaui laju inflasi nasional, menjadikannya destinasi investasi properti yang menawarkan imbal hasil riil positif serta alternatif diversifikasi portofolio di luar Jakarta.

Sementara itu, Jakarta menunjukkan dinamika yang lebih selektif. Meski harga rumah secara agregat terkoreksi 0,4% YoY, lonjakan signifikan justru terjadi pada segmen tertentu. Hunian compact berukuran ≤60 m² di Jakarta Pusat mengalami kenaikan harga tajam hingga 36,4% YoY.

Lonjakan tersebut mencerminkan pergeseran preferensi pasar menuju efisiensi modal, di mana konsumen dan investor lebih memilih unit dengan harga nominal lebih terjangkau namun berlokasi strategis. Stabilnya suku bunga acuan Bank Indonesia di level 4,75% turut memperkuat minat pada segmen yang paling likuid dan adaptif terhadap daya beli masyarakat perkotaan.

Baca Juga : PPN DTP Diperpanjang Hingga 2026, Permintaan Properti Baru Kian Menguat

“Likuiditas pasar tidak menghilang, tetapi berpindah. Unit compact menjadi pilihan paling rasional secara finansial, dan Jakarta Pusat menunjukkan bagaimana lokasi strategis tetap menjadi penentu utama nilai,” tambah Marisa.

Secara keseluruhan, Flash Report Februari 2026 by Rumah123 menegaskan bahwa pasar properti sekunder Indonesia tengah bergerak menuju keseimbangan baru yang ditopang oleh kebutuhan riil, bukan spekulasi.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, data pasar yang akurat menjadi fondasi penting bagi masyarakat dan investor dalam mengambil keputusan hunian maupun investasi jangka panjang. (*)

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *