Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Ekonomi BisnisFinansial

IHSG Menguat 0,31 Persen, Mirae Asset Ingatkan Investor Cermati Fundamental Saham

×

IHSG Menguat 0,31 Persen, Mirae Asset Ingatkan Investor Cermati Fundamental Saham

Sebarkan artikel ini

TrenBisnis.co, JAKARTA — PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih rentan di tengah ketidakpastian pasar global, tekanan nilai tukar rupiah, dan isu reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. Investor pun disarankan mengutamakan fundamental perusahaan dalam menentukan keputusan investasi.

IHSG ditutup menguat tipis 0,31 persen ke level 5.282 pada perdagangan Rabu (28/10/2026), setelah sempat bergerak di zona merah sepanjang perdagangan intraday. Meski demikian, penguatan tersebut belum cukup untuk mengindikasikan pembalikan tren pasar.

Di sisi lain, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sekitar Rp655 miliar di seluruh pasar. Namun, arus dana masuk tersebut dinilai belum menunjukkan pemulihan yang konsisten setelah tekanan jual muncul menyusul pengumuman konsultasi MSCI terkait reklasifikasi pasar saham Indonesia.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, pergerakan IHSG masih rentan terhadap perubahan sentimen investor. Tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian eksternal menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.

Baca Juga :  LIVE dan Konten Dongkrak Transaksi, Tokopedia–TikTok Shop Catat Lonjakan 15 Kali Lipat

“Kami tetap berhati-hati dan melihat pemulihan IHSG masih rapuh hingga arus dana asing membaik secara lebih konsisten dan tekanan terhadap rupiah mereda,” ujar Rully dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).

Dari eksternal, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% di tengah inflasi yang masih tinggi. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 5%, sedangkan harga minyak Brent meningkat hingga US$115 per barel.

Kombinasi tingginya imbal hasil global dan kenaikan harga energi berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah sekaligus mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik.

Spekulasi BBCA dan DBS Belum Terbukti

Di tengah volatilitas pasar, perhatian investor juga tertuju pada spekulasi mengenai kemungkinan transaksi strategis yang melibatkan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan DBS Group. Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi yang mengonfirmasi adanya rencana transaksi tersebut.

Spekulasi itu berkembang di tengah ketidakpastian pasar, setelah rumor akuisisi BBCA oleh pengusaha Haji Isam pada September 2026 dibantah oleh perseroan. Sejumlah pembicaraan pasar lainnya juga belum terverifikasi.

Baca Juga :  McEasy Kantongi Pendanaan 9 Juta Dolar AS, Ekraf Dorong Ekspansi Teknologi ke Pasar Global

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin menjelaskan, penurunan valuasi BBCA akibat ketidakpastian terkait MSCI secara teoritis dapat meningkatkan daya tarik saham tersebut bagi investor strategis.

Meski demikian, realisasi akuisisi bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari kesediaan pemegang saham, kapasitas pendanaan, hingga persetujuan regulator.

PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham pengendali BBCA dengan kepemilikan 54,94%. Hingga kini, belum ada rencana divestasi yang diumumkan secara terbuka.

“Meski penurunan valuasi dapat membuka peluang bagi investor strategis, belum ada bukti yang cukup untuk menilai kemungkinan terjadinya transaksi. Karena itu, kami tidak melihat dasar yang kuat untuk memasukkan premi akuisisi ke dalam valuasi BBCA atau memperkirakan perubahan pengendalian dalam waktu dekat,” jelas Nurkholis.

Pengalaman DBS Group dalam mengakuisisi Bank Danamon pada 2012 juga menunjukkan adanya tantangan regulasi dalam transaksi perbankan lintas negara. Rencana akuisisi 67,37% saham Danamon senilai Rp45,2 triliun tidak berlanjut pada 2013 setelah regulator membatasi porsi kepemilikan yang dapat diakuisisi.

Baca Juga :  DPR Apresiasi Kinerja KemenUMKM, Realisasi KUR Tembus Target

Fundamental Tetap Jadi Pertimbangan

Mirae Asset menilai spekulasi mengenai perubahan kepemilikan BBCA belum dapat dijadikan dasar untuk memperkirakan terjadinya transaksi dalam waktu dekat. Oleh karena itu, potensi premi akuisisi belum layak dimasukkan ke dalam perhitungan valuasi saham tersebut.

Daya tarik investasi BBCA tetap perlu dinilai berdasarkan fundamental perusahaan, terutama kekuatan basis pendanaan, kualitas aset, profitabilitas, serta valuasi saham.

Di tengah ketidakpastian pasar, investor juga perlu memisahkan informasi yang telah dikonfirmasi secara resmi dari spekulasi yang beredar. Perkembangan arus dana asing, pergerakan rupiah, dan kondisi makroekonomi menjadi indikator penting untuk memantau arah pasar saham domestik.

Dengan demikian, penguatan IHSG dalam satu sesi perdagangan belum cukup menjadi sinyal pemulihan yang berkelanjutan. Konsistensi arus modal asing dan ketahanan fundamental emiten masih menjadi faktor penting dalam menentukan peluang investasi di pasar saham Indonesia.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *