Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
EventGaya Hidup

JCWF 2026 Dorong Jogja Kembangkan Wisata Wellness Berbasis Budaya

×

JCWF 2026 Dorong Jogja Kembangkan Wisata Wellness Berbasis Budaya

Sebarkan artikel ini

TrenBisnis.co, YOGYAKARTA — Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 mendorong Yogyakarta memperkuat posisi sebagai destinasi wisata wellness berbasis budaya dengan mengintegrasikan sektor pariwisata, hospitality, kesehatan, komunitas, budaya, dan ekonomi kreatif.

Mengusung tema “RECONNECT — Reconnecting People, Culture & Wellbeing”, festival yang akan berlangsung pada 6–8 November 2026 ini tidak hanya diarahkan sebagai agenda wisata, tetapi sebagai platform untuk membangun ekosistem wellness tourism yang berakar pada nilai dan budaya lokal.

Ketua JCWF 2026 GKR Bendara memimpin inisiatif tersebut dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, sektor kesehatan, komunitas budaya, praktisi wellness, desa wisata hingga pelaku ekonomi kreatif.

Salah satu pusat kegiatan JCWF 2026 adalah Loman Park Hotel Yogyakarta, yang menjadi ruang pertemuan antara pelaku hospitality, komunitas, praktisi wellness, wisatawan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Founder, Managing Director, sekaligus General Manager Loman Park Hotel Yogyakarta Handono Suyatno Putro mengatakan pengembangan wellness tourism di Yogyakarta memiliki peluang besar karena didukung kekayaan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat.

“Yogyakarta memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan cultural wellness. Nilai-nilai seperti srawung, unggah-ungguh, gotong royong, keseimbangan, serta hubungan manusia dengan alam merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan dapat diterjemahkan menjadi pengalaman wellness yang autentik,” kata Handono.

Menurutnya, tren wellness tourism saat ini tidak lagi sebatas aktivitas relaksasi, spa, maupun kebugaran. Wisatawan mulai mencari pengalaman yang lebih utuh, termasuk aspek kesehatan, mental, sosial, spiritual, budaya, dan hubungan dengan lingkungan.
Karena itu, budaya lokal dinilai dapat menjadi pembeda bagi Yogyakarta di tengah persaingan destinasi wellness global.

“Yang menjadi tantangan bukan menciptakan sesuatu yang baru, tetapi bagaimana menghubungkan kembali potensi yang sudah dimiliki Yogyakarta dengan kebutuhan wisatawan masa kini tanpa menghilangkan esensi budaya tersebut,” ujarnya.

Budaya Jadi Pengalaman

JCWF 2026 mengembangkan konsep RECONNECT melalui tiga pilar, yakni Reconnect People, Reconnect Culture, dan Reconnect Wellbeing.
Reconnect People berfokus pada penguatan interaksi antarmanusia dan jejaring komunitas. Reconnect Culture mengajak wisatawan memahami nilai di balik warisan budaya, sedangkan Reconnect Wellbeing menghubungkan pengalaman tersebut dengan keseimbangan fisik, mental, sosial, emosional, spiritual, dan ekologis.

Pendekatan tersebut antara lain diwujudkan melalui berbagai praktik budaya seperti jemparingan, gamelan, tari klasik, jamu, serta aktivitas berbasis alam.

Handono menilai pendekatan tersebut penting agar budaya tidak berhenti sebagai atraksi wisata.
“Budaya seharusnya tidak hanya ditampilkan untuk dilihat, tetapi juga dapat dialami dan dipahami. Jemparingan, gamelan, tari, maupun jamu memiliki nilai dan filosofi yang relevan dengan kebutuhan wellbeing masyarakat saat ini,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan komunitas menjadi faktor penting dalam menjaga agar pengembangan cultural wellness tetap memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

“Wellness tourism tidak bisa dibangun oleh satu sektor. Hospitality, kesehatan, budaya, komunitas, desa wisata, ekonomi kreatif, dan alam harus saling terhubung. Dengan ekosistem yang kuat, manfaat ekonominya juga dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujar Handono.

Hotel Jadi Bagian Ekosistem

Sebagai salah satu lokasi utama JCWF 2026, Loman Park Hotel Yogyakarta diposisikan bukan hanya sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan hospitality dengan wellness, budaya, komunitas, dan destinasi.

Handono mengatakan keterlibatan industri hotel dalam pengembangan wellness tourism dapat membuka peluang baru bagi sektor hospitality sekaligus memperpanjang rantai nilai pariwisata.

“Hotel tidak hanya menjadi tempat menginap. Hotel dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal pengalaman wellness, budaya, komunitas, dan destinasi di sekitarnya,” tuturnya.
Menurut dia, keberhasilan pengembangan wisata wellness juga tidak semata-mata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan.

“Yang lebih penting adalah bagaimana wisatawan mendapatkan pengalaman yang bermakna, komunitas memperoleh manfaat ekonomi yang layak, dan pengetahuan budaya tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Handono.

Melalui JCWF 2026, Yogyakarta diharapkan dapat memperkuat diferensiasi pariwisatanya dengan menawarkan pengalaman wellness yang berakar pada budaya lokal.

Editor : Huda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *